68 Peneliti Indonesia Terlibat Riset Sorgum Untuk Energi Terbarukan

Project Manager SATREPS yang juga selaku peneliti dari LIPI, Prof. Dr. I Made Sudiana, M.Sc (kiri), saat foto bersama dengan peneliti dari University of Kyoto, Masaru Kobayasi di Lahan Percobaan Sorgum LIPI Cibinong Science Center. Foto: Dokumentasi Pribadi Prof. Dr. I Made Sudiana, M.Sc
Article Inline AD

 

Bogor,- Sebanyak 68 orang peneliti dari Indonesia terlibat dalam kegiatan penelitian SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development). Mereka bekerjasama dengan 12 peneliti lain dari Jepang.

Hal ini disampaikan oleh Project Manager SATREPS yang juga peneliti dari LIPI, Prof. Dr. I Made Sudiana, M.Sc, kepada priskop.com di sela-sela kegiatan The 3rd SATREPS Conference, di  Aula Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/11/2018).

“Jumlah keseluruhan peneliti dalam penelitian SATREPS ini berjumlah 68 orang peneliti yang berasal dari Negara Indonesia dan 12 orang peneliti lainnya berasal dari Negara Jepang “, kata I Made Sudiana.

Untuk diketahui, SATREPS merupakan program riset bersama yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Universitas Kyoto Jepang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknologi yang mampu  mengembalikan lahan marginal, seperti padang alang-alang, menjadi lahan produktif. Yakni dengan ditanami sorgum, untuk sumber produksi energi terbarukan.

Made Sudiana menerangkan, 68 orang peneliti dari Indonesia yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari LIPI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dari Kementerian Pertanian. Sementara itu 12 peneliti dari Jepang berasal dari gabungan peneliti dan akademisi.

Target yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu untuk dapat menghasilkan suatu model proyek yang bisa membantu pemerintah dalam menyediakan sumber pangan alternatif serta menghasilkan energi terbarukan dari tanaman sorgum, kata Made.

“Apabila proyek ini sukses, maka kita bisa menggantikan batu bara dengan biopellet dari sorgum. Karena dapat diproduksi di mana saja dan kapan saja,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Made, kegiatan penelitian ini juga merupakan salah satu model proyek yang bisa digunakan untuk mereduksi emisi karbon dioksida (CO2) dan menambah produksi biofuel kita.

Made menyampaikan bahwa dirinya dan sejumlah peneliti lain sudah meninjau lokasi di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT. Di sana ada 5.000 hektar lahan yang bisa ditanami sorgum terkait penelitian ini. Tempat lain yang juga sesuai ada di Madura, Jawa Timur.

Made berharap, penelitian terkait bioenergi ini dapat lebih insentif lagi dilakukan. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya yang bagus. Baik itu dari sorgumnya, lahannya, dan potensi pasarnya. Dia menyebut, banyak perusahaan yang tertarik dengan potensi sumber daya di Indonesia ini.

(Penulis: Nataniel Pekaata, Editor: Agus)

 

Article Bottom AD