Andhika Prastawa: Madhep… Manteb… Tetep… dan Teteg…

Kepala B2TKE BPPT Andhika Prastawa. (Sumber: istimewa)
Mengukur kemampuan tim dalam bekerja menjadi salah satu strategi untuk mencapai target sebuah instansi yang dipimpin. Dengan mengetahui karakteristik tim, tujuan sebuah instansi akan lebih realistis dan mudah diimplementasikan.
Hal tersebut yang selalu dilakukan oleh Andhika Prastawa yang kini menjabat sebagai Kepala Balai Besar Teknologi Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Pria kelahiran Ujung Pandang 1965 ini bergabung dengan BPPT sejak 1990. Awal bergabung dengan BPPT, ia menjadi engineer muda yang ditugaskan pada program kerjasama dengan perusahaan konsultan multinasional bidang ketenagalistrikan.

“Mengukur kemampuan tim dalam bekerja menjadi salah satu strategi untuk mencapai target sebuah instansi yang dipimpin. Dengan mengetahui karakteristik tim, tujuan sebuah instansi akan lebih realistis dan mudah diimplementasikan.”

Sebagai seorang leader, Andhika beranggapan hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat tupoksi unit. Dia harus memahami tugas yang sedang diemban dan harus tahu persis apa yang menjadi goal-nya. Dengan begitu, nantinya seorang leader dapat menetukan goal yang konkret.
“Saya harus melihat pasukan saya, mengenali rekan kerja secara individu khususnya. Dari situ saya bisa merumuskan hal yang kita sanggupi dan kita ajukan ke pimpinan,” kata Andhika kepada Priskop saat kunjungan ke BPPT baru-baru ini.
Setelah mengetahui kemampuan tim, lanjut Andhika, tugas seorang leader yaitu memberikan arah apa saja yang harus dilakukan oleh timnya. Dengan begitu, Andhika berharap ada rasa ownership dari rekan-rekan timnya terhadap program kerjanya tersebut.
Namun tidak hanya itu, menurut pria lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut, seorang pemimpin juga harus memposisikan diri sebagai wadah bagi bawahannya.
Andhika juga harus dapat memfasilitasi rekan-rekannya agar bisa bekerja dengan baik. Memfasilitasi dalam arti secara administrasi, termasuk memastikan upah yang mereka terima, biaya perjalanan dinas dan sebagainya.
“Setidaknya kebutuhan mendasar mereka sudah terpenuhi. Dengan begitu mereka bisa bekerja dengan baik. Saya harus dapat menyeimbangkan antara hak dan kewajiban, Kewajiban saya adalah hak mereka, sedangkan hak saya adalah kewajiban mereka,” tutur pria kelahiran Ujung Pandang tersebut.
Strategi yang diterapkan oleh Andhika berujung manis. Alhasil, dirinya dapat meraih capaian dalam project-nya. Hal tersebut merupakan hasil dari manajemen sumber daya yang baik.
“Setiap tahun kita punya indikator kinerja. Tahun 2017 lalu, indikator keberhasilan saya antara lain yaitu dapat melaksanankan pengoperasian PLTP skala kecil dan terselesaikannya upgrade power grid di Pulau Sumba,” ujarnya.
Masa Depan EBT yang Masih Cerah
Sebagai Kepala Balai Besar, Andhika memiliki pandangan mengenai isu-isu terkini mengenai energi di Indonesia, salah satunya mengenai program pembangkit listrik 35.000 megawatt yang ditargetkan pemerintah akan terealisasi pada 2019.
Menurutnya program pembangkit listrik 35.000 megawatt pada 2019 secara statistik dan kenyataan di lapangan tidak membahagiakan. Alasannya, pertumbuhan industri yang stagnan dan realitas di lapangan juga tidak banyak pelaku indusrti yang menyampaikan secara pribadi atau secara publik akan mengembangkan industri ini.

“Masih ada kemungkinan pemerintah mengubah kebijakan. Pemerintah masih nyaman dengan harga listrik sekarang. Mungkin nanti kedepannya pemerintah dapat  mengusahakan bagaimana mengkompensasi harga EBT yang makin murah,”

Namun, Andhika menilai masa depan Energi Baru Terbarukan (EBT) masih cerah. Pasalnya penggunaan EBT didorong dengan desakan dari aspek lingkungan hidup untuk menggunakan energi bersih. Selain itu, nilai teknologi EBT juga semakin baik sehingga pemerintah semakin banyak belajar mengolah EBT sesuai dengan keekonomiannya dan dapat melahirkan regulasi yang mendukung.
“Masih ada kemungkinan pemerintah mengubah kebijakan. Pemerintah masih nyaman dengan harga listrik sekarang. Mungkin nanti kedepannya pemerintah dapat  mengusahakan bagaimana mengkompensasi harga EBT yang makin murah, sehingga perbankan dan EBT bisa jalan,” papar Andhika.
Saat ini, sambung Andhika, “Kontribusi EBT lebih kecil dibanding fosil. Sehingga kalau kita bisa menekan sedikit biaya energi fosil, itu sudah cukup memberikan ruang untuk mengakomodasi pembangkit EBT.”
Pengembangan EBT sudah memasuki zona urgensi. Meskipun dia pesimis energi fosil dapat digantikan dengan EBT, statistik menunjukan cadangan energi fosil semakin tipis.
“Minyak kita sudah impor, gas kalau tidak hati hati penggunaan dan ekspornya, pada 2030 nanti kita akan impor. Batu bara kalau tidak diatur dengan baik antara kemampuan produksi dan penggunaannya kita akan impor pada 2040. Penggunaan EBT ini untuk memperpanjang usia energi yang suatu saat nanti akan habis,” jelas Andhika.
Oleh karena itu, dia menyoroti isu mengenai energi di kancah internasional. Menurutnya harus ada keseimbangan dan tanggung jawab antara negara maju terhadap negara berkembang terkait EBT.

“Menurutnya dengan memancing dapat mengajarkan bagaimana mempertahankan kesabaran,”

Sumber: Istimewa
Memancing Hingga Travelling
Disela-sela kesibukannya, ternyata Andhika kerap menyalurkan hobi memancingnya. Meskipun tidak secara formal mengikuti komunitas atau perkumpulan, tetapi menurutnya hobinya ini memiliki banyak nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya dengan memancing dapat mengajarkan bagaimana mempertahankan kesabaran, konsistensi dan ketekunan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sabar tapi memancing di kolam yang sedikit ikannya, sulit dapat ikan. Begitu juga kalau di kolam yang banyak ikannya kalau tergesa-gesa juga sulit mendapatkan ikan,” katanya.
Selain memancing, dia juga gemar plesir bersama keluarga. Tempat wisata favoritnya adalah daerah pegunungan Bandung Selatan. Meski begitu, dia berkeinginan untuk melakukan wisata bahari ke tempat yang belum pernah dia sambangi.
“Sukanya rekreasi ke alam, terakhir saya ke Bromo. Saya mau wisata bahari ke Lombok, Karimun Jawa.  Favoritnya pegunungan dengan udara dingin di Bandung Selatan.
Andhika menyadari peran keluarga merupakan hal krusial dalam kehidupan pribadi maupun dalam berkarir. Menurutnya, seseorang tidak akan bisa berpikir dengan baik dan menghasilkan ide cemerlang bila berangkat dari rumah dengan berbagai permasalahan yang mengganggu.
“Saya ingat kata orang tua saya. Dalam filosofi Jawa, lakukanlah sesuatu baik dalam berkehidupan, pekerjaan maupun berumah tangga dengan madhep (menghadapi) dalam arti memiliki punya visi, manteb (kemantapan) punya passiontetep (konsisten) ketekunan menjalani yang sedang dihadapi dan teteg (tawakal terhadap apapun yang diperoleh),” tuturnya. (Nan/Ris)
Article Inline AD

 

 

Article Bottom AD