Arti “Merdeka” Bagi Warga Kampung Bencah Umbai

0
69
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat Bencah Umbai, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Pembangkit ini mempunyai daya sebesar 50 KWp yang dapat mengaliri 157 rumah/KK dengan daya 600 Watt hour. (Foto: priskop.com)
Kali ini Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat (PLTST) untuk masyarakat Bencah Umbai, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Ketika Listrik Menjadi Ukuran “Merdeka”

Proyek pembangkit listrik ini dimulai pertengahan tahun 2013 lalu, program untuk elektrifikasi Nasional di daerah Bencah Umbai mulai digagas oleh pemerintah daerah dan selanjutnya ditindak lanjuti oleh kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pada Februari 2018 lalu warga Bencah Umbai telah dapat menikmati aliran listrik disetiap rumahnya. Kedatangan listrik di kampung ini telah banyak memberikan perubahan dan harapan bagi masyarakat Bencah Umbai. Sudah sekian lama masyarakat di kampung ini tidak menikmati listrik, mereka hidup dalam kesehariannya yang minim akan energi listrik. Untuk mendapatkan energi listrik, masyarakat yang tergolong mampu menggunakan mesin diesel sebagai sumber listrik untuk kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu betapa kehadiran listrik bagi masyarakat Bencah Umbai merupakan salah satu wujud perhatian dari negara kepada warganya yang dapat dirasakan oleh warga disana.
Pada awal April 2018 lalu, Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat Bencah Umbai diresmikan oleh beberapa jajaran dari perwakilan Pemerintah Dearah  yang juga dihadiri oleh jajaran Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM dalam hal ini diwakili oleh Direktur Infrastruktur, Noor Arifin Muhammad. Pada kesempatan tersebut Kepala Kampung Bencah Umbai dalam pidato pembukaannya mewakili warga menyampaikan rasa bersyukurnya ketika listrik masuk kampung mereka, saat inilah mereka bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kata “Merdeka” yang terucap dari mereka merupakan kata yang bernilai sangat berharga dari ungkapan warga negara ditengah kemerdekan yang telah berjalan 73 tahun lalu.
Suasana Peresmian PLTS T Bencah Umbai. (Foto: priskop.com)
Disamping itu dalam pidatonya, PLT Bupati Siak  Alfredi juga menyambut dengan baik suka cita warga yang merasa lebih merdeka ketika ada listrik masuk ke kampung mereka daripada infrastruktur jalan yang telah tersedia jauh lebih dulu sebelumnya. Rupanya masyarakat masih banyak yang belum seutuhnya merasakan kemerdekaan di Republik ini. Listrik merupakan energi vital yang dapat mengubah sekaligus memberikan banyak manfaat. Dengan teknologi pemanfaatan energi sinar matahari ini telah menjadikan warga yang tinggal di daerah terpencil dapat menikmati energi listrik walaupun masih dengan keterbatasan.

PLTS Terpusat Bencah Umbai Miliki TKDN hingga 42%

Keberadaan PLTS Terpusat Bencah Umbai selain memberikan semangat baru bagi warganya juga sekaligus membuktikan langkah mandiri bagi Indonesia dalam mengembangkan energi baru terbarukan yang  bersih. Hal ini terbukti dalam proyek pembangunan pembangkit bertenaga surya ini, banyak dari komponen-komponen yang telah diproduksi oleh perusahaan dalam negeri. Proyek yang dikerjakan oleh Wijaya Karya Industri Energi (Wika Industri Energi) dengan dana anggaran APBN 2017 sebesar 13 Miliar ini telah menggunakan produk solar panel buatan Wika PV. Walupun sel dari solar panel yang masih harus tetap didatangkan dari luar, akan tetapi tetap solar panel dari Wika PV mempunyai nilai tingkat komponen yang diproduksi di dalam negeri hingga mencapai 42%.
Direktur Operasional Wika Industri Energi saat Peresmian PLTST Bencah Umbai. (Foto: priskop.com)
Direktur Operasional Wika Industri Energi, Andi Nugraha menyampaikan bahwa tingkat komponen yang diproduksi untuk Pembangkit Tenaga Surya ini telah banyak menggunakan produksi dalam negeri. Walaupun masih ada bahan-bahan dan perangkat yang memang masih menggunakan produk import, akan tetapi item terpenting dari pembangkit sendiri seperti solar panel adalah rakitan dalam negeri.
“kita sudah menggunakan produksi dalam negeri untuk solar panel sendiri, walaupun memang sel dari solar panel kita masih import akan tetapi modul dan yang lainnya sudah buatan kita.” Ungkap Andi dalam sebuah sesi wawancara pada peresmian PLTS Terpusat di Bencah Umbai awal April lalu.
Pembangkit yang memiliki daya sebesar 50 KWp dan telah mengaliri  listrik  disebanyak 157 rumah/KK ini membagi daya sesuai dengan jumlah dan kebutuhan per rumah yaitu sebesar 600 Killowatt Hour dengan daya 220 Watt. Penggunaan PLTS Terpusat memang sedikit berbeda dengan penggunaan listrik dalam jaringan listrik PLN yang ada di daerah lain. Penggunaan PLTS terpusat memang harus dibatasi dalam penggunaannya mengingat terbatasnya sumber utama dari pembangkit ini yaitu sinar matahari.  Sehingga pembangkit ini hanya akan dapat bekerja pada saat pagi dan siang hari disaat terik sinar matahari maksimal, dalam kondisi ini peranan baterai menjadi hal yang sangat penting. Baterai merupakan penyimpan daya yang akan menyuplai listrik kerumah penduduk dikala sang surya telah tenggelam.
Warga Kampung  Bencah Umbai mempunyai keterbatasan penggunaan listrik pada setiap harinya sebesar 600 Watt dalam waktu 24 jam. Tenaga yang tersimpan pada 33 buah baterai yang disusun secara pararel di ruang control akan diditribusikan untuk warga pada waktu malam hari. Baterai ini mempunyai ketahanan penyimpanan energi untuk menyuplai listrik selama dua hari tanpa ada pasokan listrik di siang harinya (dalam keadaan ekstrim tanpa sinar matahari). Sehingga  apabila penduduk dapat mengatur penggunaanya, terutama pada waktu siang hari, warga akan lebih banyak menerima pasokan listrik dimalam hari. Alat meter yang dipasang pada setiap rumah akan mengatur dan menunjukkan seberapa banyak penggunaan listrik dari setiap rumah. Alat ini sekaligus mengontrol penggunaan warga apabila telah melebihi kapasitasnya.
Alat Meter: Alat meter inilah yang berfungsi sebagai pengukur penggunaan listrik warga. (Foto: priskop.com)

Pengelolaan PLTS Oleh Kampung

Sudut Kampung: Suasana Kampung Bencah Umbai di sore hari. Menurut Perda No.1 Th. 2015 nama desa telah dirubah menjadi kampung di provinsi Riau. (Foto: priskop.com)
Menurut Perda No.1 Th. 2015 nama desa di Provinsi Riau dirubah menjadi nama kampung. Mengacu kepada Perda ini, pengelolaan dari PLTS Terpusat Bencah Umbai akan dikelolah oleh Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam). Badan inilah yang akan membahas dan menentukan besaran iuran untuk pengelolaan PLTS Terpusat ini.
Kepala Kampung Bencah Umbai, Supriadi menjelaskan bahwa pihak terkait belum secara resmi menentukan besaran iuran warga bagi perawatan dari PLTS Terpusat ini, Supriadi dan jajarannya beserta pengurus BUMKam baru akan merumuskan system sekaligus besaran pembiyaan bagi warga. Perumusan ini masih belum terlaksana lantaran menunggu selesainya serah terima  sekaligus peresmian PLTS Tepusat Bencah Umbai dari Ditjen EBTKE kepada Pemerintah Daerah. Pada hari Kamis  5 April 2018 lalu, serah terima sekaligus peresmian PLTST telah rampung dilaksanakan sehingga kepala kampung akan segera merumuskan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar seputar perawatan dari PLTS Terpusat tersebut. Supriadi menegaskan akan segera membuat pernyataan kesediaan dari warga setempat untuk ikut menjaga dan memelihara PLTST secara bersama-sama.
Supriadi Kepala Kampung Bencah Umbai saat peresmian dan serah terima PLTST dari pemerintah yang di wakili oleh Ditjen. EBTKE kepada Pemerintah Daerah. (Foto: priskop.com)
Supriadi juga menyampaikan, apapun yang akan dicapai nantinya adalah untuk kepentingan warga sehingga warga pulalah yang akan menentukan besaran harga untuk perawatan tiap bulannya.
“kami memang belum menetapkan besaran dan langkah selanjutnya untuk perawatan PLTS ini, tapi kami lewat BUMKam sudah merumuskan dan tinggal di rembug lagi dengan warga. Usulan besaran dari iuran warga sekitar 30 ribu sampai dengan 40 ribu rupiah. Yah itu nanti yang akan ditentukan oleh warga. Kemarin kami sedikit terhambat waktu karena menunggu serah terima.” Ujar Supriadi.
PLTST Bencah Umbai ini memiliki dua operator yang berasal dari warga sekitar. Operator ini dipilih oleh warga dan telah dilibatkan oleh pengembang – dalam hal ini Wika Industri Energi – sejak dimulainya pembangunan awal. Kedua operator inilah yang nantinya akan menjadi petugas untuk merawat dan membantu warga dalam mengoperasikan PLTST Bencah Umbai.
Besaran angka 30 ribu sampai dengan 40 ribu yang diusulkan oleh BUMKam dan warga inilah yang akan digunakan untuk biaya perawatan sekaligus biaya fee untuk kedua operator yang akan membantu warga dalam merawat dan mengoperasikan PLTST Bencah Umbai kedepannya.

Masyarakat dan “Listrik Surya” Bencah Umbai

Rupanya kehadiran listrik bertenaga sinar matahari ini membawa banyak dampak positif. Sebelumnya listrik di kampung hanya menyinari beberapa rumah warga saja  yang telah memiliki mesin diesel sebagai sumber energi listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-harinya. Sehingga tak heran jika kampung ini minim akan cahaya di waktu malam hari. Hal ini berdampak pada keamanan kampung. Menurut  Supriadi, Kepala Kampung Bencah Umbai dan salah satu warga Kampung Bencah Umbai, dengan hadirnya listrik tenaga surya di kampungnya membuat kampung lebih aman daripada sebelumnya.
Jumlah penerangan jalan yang dihasilkan oleh PLTST di Kampung Bencah Umbai menjadikan jalan-jalan di kampung dan juga bagian – bagian rawan desa menjadi terang. Supriadi menyampaikan betapa rawannya kampungnya dahulu sebelum PLTS selesai pembangunannya dan dapat dinikmati penerangannya oleh warga sekitar.
Selain didistribusikan ketiap-tiap rumah warga, aliran listrik juga dialokasikan ke dalam fasilitas umum warga seperti lampu penerangan jalan umum. Sekitar 60 instalasi Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan daya lampu LED sebesar 40 Watt pada tiap lampunya, Kampung Bencah Umbai menjadi terang pada saat malam tiba. Selain penerangan jalan, warga juga mendapatkan lampu jenis LED sebanyak 5 buah untuk setiap rumah dengan masing-masing daya lampu sebesar 5 Watt atau setara dengan 25 Watt lampu non LED.
“disini dulunya rawan pencurian, karena gelap gak keliatan. Hampir sisi-sisi jalan kampung gelap dahulu. Tapi, Alhamdulliah setelah PLTS Terpusat sudah beroperasi, kejahatan pencurian berangsur-angsur hilang.” Terang Supriadi.
Menonton Televisi: Menyalakan televisi disiang dan malam hari bukanlah hal yang tidak mungkin setelah listrik masuk kampung Bencah Umbai Februari 2018 lalu. (Foto: priskop.com)
Selain itu keberadaan PLTST Bencah Umbai juga telah banyak memberikan bantuan terhadap sektor industri yang ada dikampung tersebut. Sebut saja Edi, yang kesehariaanya bekerja sebagai penyedia jasa tambal ban. Mulai dari ban yang berukuran  kecil (untuk motor) hingga ban yang berukuran besar (Truk). Edi mengaku dengan adanya listrik masuk di daerahnya telah banyak membantunya dalam menjalankan usahanya. Dengan adanya listrik masuk kampung ini, Edi dapat membuka jasanya hingga larut malam. Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang membantu aktivitas warga dalam menjalankan usaha maupun menjalankan aktivitas kesehariannya.
Article Inline AD

 

Tempel Ban: salah satu warga Kampung Bencai Umbai ketika melakukan aktivitas usahanya hingga sore hari, setelah PLTST diresmikan banyak warga membuka usahanya dan jasanya hingga malam hari. (Foto: priskop.com)
Menonton televisi di waktu siang dan malam juga bukan aktivitas yang sulit seperti sebelumnya yang telah dialami warga kampung. Dalam pemanfaatan listrik tenaga surya ini, warga hanya harus pandai-pandai mengatur penggunaannya sesuai dengan pasokan listrik yang telah disediakan. Dengan pengaturan yang hemat dan tepat tentunya warga juga akan masih dapat menikmati televisi di waktu malam hari. Mengingat pasokan listrik pada malam hari akan lebih besar dibandingkan pada saat siang.
Program elektrifikasi pemerintah terhadap daerah 3T yaitu terdepan, terpencil dan tertinggal merupakan target pemerintah dalam mewujudkan Pancasila sila ke lima. Pemerintah berusaha menggenjot energi berkeadilan dengan target 2500 desa di Indonesia dapat dialiri listrik dan menikmati penerangan dengan biaya yang terjangkau. Dengan pembangunan pembangkit listrik secara komunal di sebuah daerah 3T seperti Bencah Umbai merupakan wujud nyata pemerintah dan langkah awal yang nyata agar energi berkeadilan dapat diwujudkan. (Ris)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY