Beberapa Kendala Pengembangan Panas Bumi di Indonesia

Ida Nuryatin Finahari, Direktur Panas Bumi, Ditjen EBTKE Kementerian ESDM. Foto : EBTKE, Kementerian ESDM
Article Inline AD

 

Jakarta,- Ada beberapa hal yang menjadi kendala pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) sebagai sumber energi di Indonesia. Antara lain, pengembangan panas bumi perlu investasi yang besar, investasi panas bumi berisiko tinggi, resistensi dari masyarakat, serta sulitnya melakukan efisiensi biaya.

Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari mengatakan, proyek panas bumi membutuhkan investasi yang besar. Investasi di sisi hulu membutuhkan sekitar USD 4 juta per mega watt (MW). Selain besar, investasi pada proyek panas bumi juga berisiko tinggi.

“Investasi besar dan risiko yang tinggi di sisi hulu, dengan asumsi sebesar USD 4 juta per MW,” kata Ida, saat dihubungi Priskop.com, Selasa pekan lalu (6/11/2018).

Ida melanjutkan, panas bumi juga sulit dikembangkan karena kadang ada resistensi dari masyarakat di sekitar lokasi. Selain itu, seringkali area prospek pengembangan panas bumi berada pada Kawasan Hutan Konservasi (cagar alam dan taman nasional yang masuk dalam kategori warisan dunia atau world heritage). Hal itu juga menjadi kendala tersendiri.

“Resistensi masyarakat dan area yang berada di Kawasan Hutan Konservasi,” jelasnya.

Selain itu, Ida menambahkan, efisiensi biaya juga menjadi sebuah hambatan tersendiri dalam pengembangan panas bumi. “Kondisi topografi wilayah pengembangan yang relatif sulit dan kondisi cadangan panas bumi yang tidak sesuai perencanaan, sehingga menyebabkan hambatan dari segi efisiensi biaya,” pungkasnya.

(Nur Cahyono)

Article Bottom AD