Cina Mengekstrak Gas Alam Demi Sumber Energi Baru

0
4758
Sumber ilustrasi: in8life.com
Jakarta – Banyak negara semakin berlomba-lomba mencari alternatif untuk energi baru dan terbarukan guna mengganti bahan bakar konvensional yang persediaannya kian menipis di bumi. Kali ini, negara Cina berhasil mengekstraksi gas alam dari endapan es di Laut Cina Selatan. Alhasil, kini mereka bisa memanennya dalam bentuk ‘es yang mudah terbakar’. ‘Es yang mudah terbakar’ itu tak lain adalah Metana Hidrat (Methane hydrate). Penampakan zat ini sekilas terlihat seperti es namun sebenarnya zat tersebut adalah Metana yang terperangkap di dalam kisi molekul air. Jika diamati secara seksama, es itu tidak akan meleleh ketika terbakar, melainkan benar-benar habis karena pembakaran. Sifat zat ini menjadikan Metana Hidrat merupakan deposit gas padat yang terbentuk dari silang tekanan rendah dan tekanan moderat yang bergabung sehingga menjebak Metana dengan cara yang spesifik di dasar laut dengan kedalaman ratusan meter.
Temuan ini dipublikasikan oleh www.sciencealert.com ketika berbincang dengan ahli geologi alam dari Selandia Baru, bernama Ingo Pecher. Ilmuwan lulusan Universitas Auckland Selandia Baru itu mengatakan, “jika gas berada pada konsentrasi yang cukup di dasar laut, di dalam bidang stabilitas gas hidrat, Anda akan mengharapkannya dalam bentuk hidrat”. Namun, lanjutnya, bidang stabilitas itu gampang terganggu jika tekanan atau suhunya diganti.
Semua Metana yang terperangkap akan terlepas, itulah mengapa keberhasilan mengekstrak gas dari Metana Hidrat adalah temuan besar bagi para insinyur. Diketahui dari artikel tersebut, bahwa setiap satu meter kubik Metana Hidrat dapat melepaskan 164 meter kubik gas alam ketika dibawa ke permukaan. Nilai ini menjadikan Metana Hidrat sebagai bahan bakar yang sangat berharga. Para periset menduga kemungkinan adanya cadangan gas hidrat yang melimpah di bumi mengingat sudah terpendam cukup lama dan tak tersentuh secara massal.
“Dalam konsentrasi rendah, zat ini cukup umum di margin benua. Namun, deposit gas hidrat secara komersial kurang familiar,” ujar Pecher di situs itu.
Padahal, ada banyak peluang untuk menjadikannya komersil, namun hanya sedikit yang berhasil mengekstraknya. Perihal Metana Hidrat sebenarnya bukan bahan ‘obrolan’ baru di bidang energi baru dan terbarukan. Sejak tahun 2013 Jepang telah memulai peluang itu dengan serangkaian tes dan penelitian ekstraksi gas perintis dari es yang mudah terbakar. Sayangnya, tes tersebut terganjal masalah dan baru-baru ini mulai disempurnakan kembali. Kini, temuan Cina terkait platform ekstraksi gas yang mengambang di Laut China Selatan telah memberikan hasil yang sangat menjanjikan. Bahkan tidak hanya untuk tujuan eksperimental, melainkan juga sangat potensial untuk kebutuhan komersial. Pengeboran di dasar laut itu, menurut laporan di media setempat berhasil mendapatkan sebanyak 35 ribu meter kubik gas per hari.
Seorang insinyur kimia dari Universitas Nasional Singapura bernama Praveen Linga mengatakan kepada BBC bahwa jika dibandingkan secara kuantitatif, hasil ekstrak gas yang didapatkan para ilmuwan Cina lebih banyak dibandingkan yang dilakukan Jepang selama ini. Dewasa ini, Metana Hidrat masih menjadi perdebatan tersendiri tatkala menelusuri riwayatnya yang masih tergolong bahan bakar fosil. Bahkan, pengeboran dasar laut untuk es yang mudah terbakar ini pun bukan nihil resiko. Dampak lingkungan pastilah ada di setiap penemuannya dan tak terelakkan jika sedikit-banyak memengaruhi ekologi lokal di sana. Seperti diketahui juga bahwa Metana merupakan gas rumah kaca super kuat yang memiliki potensi pemasan global hingga 36 kali lebih banyak dibandingkan karbon dioksida. Terlepas dari semua itu, Pecher tetap beranggapan bahwa Metana Hidrat ini perlu dikembangkan sebagai sumber bahan bakar fosil baru. Pasalnya, jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya, pembakaran gas hanya menghasilkan sedikit emisi.
“Sekarang ini perlu upaya untuk mengurangi emisi CO2, dan jangan menunggu 20 sampai 30 tahun lagi. Kita perlu segera beralih dari batubara menuju gas alam,” katanya kepada Sciencealert. ( Liy)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY