Desa Tepian: Bergelap-gelap Dahulu Terang benderang Kemudian (1 dari 2)

Ditengah-tengah pertumbuhan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bekembang dan mulai diperhitungkan dunia, ternyata masih banyak penduduk yang tinggal di daerah dan masih belum menikmati listrik dalam kehidupan sehari-harinya. Kalaupun mereka bisa menikmati listrik, mereka akan menikmati dengan keterbatasan dan biaya yang tidak murah.
Baru-baru ini kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Ditjen EBTKE meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpusat dengan daya 75 KW di Desa Tepian yang terletak di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Propinsi Kalimantan Utara pada Sabtu, 9 Maret 2018 lalu.
Pembangkit listrik ini telah menjadi harapan baru sekaligus pencerahan bagi masyarakat Desa Tepian dalam menikmati listrik untuk kehidupan sehari-harinya. Memang pembangkit ini masih belum dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat desa karena keterbatasan daya yang masih terbatas. Paling tidak, energi listrik ini telah menjadi sebuah awal agar masyarakat dapat menikmati listrik dari anggaran negara dan dapat terwujudnya keadilan sosial bagi warga negara.

Sang Surya Harapan Desa Tepian

Desa Tepian terletak berdekatan dengan kota Tarakan. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam untuk dapat tiba di Desa Tepian dengan alat transporatasi speed boat.
Butuh waktu sekitar 1,5 sampai dengan 2 jam dari pelabuhan kecil Tarakan, untuk dapat tiba di Desa Tepian, perjalanan yang hanya dapat di tempuh dengan alat transportasi speed boat ini menyebabkan Desa Tepian mengalami kesulitan untuk mendapatkan banyak akses dalam membantu dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk dapat mencapai pusat kota Tarakan. Biaya yang harus dkeluarkan warga desa untuk menuju pelabuhan kecil di Tarakan membutuhkan biaya 200 ribu rupiah untuk pergi dan 200 ribu rupiah untuk kembali. Yang lebih menyulitkan lagi jadwal speed boat yang tersedia hanya terdapat dua kali jadwal pemberangkatan yaitu jam 9 dan 10 pagi setiap harinya.
Sehingga warga harus menginap apabila warga pergi ke kota (Tarakan). Betapa tidak, untuk dapat kembali ke Desa Tepian warga harus menunggu jadwal pemberangkatan pada esok harinya. Belum lagi apabila cuaca memburuk transportasi untuk menuju ke desa tersebut juga akan mengalami penundaan dan terkadang mengalami pembatalan. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya warga desa untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari termasuk bahan bakar untuk menghidupkan mesin diesel sebagai satunya-satunya sumber listrik yang ada saat itu.
Article Inline AD

Atas: Suasana pelabuhan kecil di Kota Tarakan, perahu motor kecil inilah yang menjadi angkutan utama menuju Desa Tepian. Bawah: Suasana dan pemandangan dalam perjalanan menuju Desa Tepian. (Foto: priskop.com)
Selamat Datang: Anjungan Desa Tepian, tempat perahu motor menepi. (Foto: priskop.com)
Pada Bulan Desember 2017 Pemerintah telah membangun pembangkit listrik yang dihasilkan dari sinar Matahari. Sehingga pada akhir tahun lalu, desa yang berpenghuni 159 KK ini telah menikmati listrik dari pembangkit listrik terpusat. Proyek pemerintah yang menelan anggaran sebesar Rp. 5,9 Miliar dari dana APBN ini telah merubah pola hidup warga yang semula kesulitan dalam menikmati listrik untuk kehidupan sehari-hari karena keterbatasannya menjadi mudah dalam menikmati kemudahan dalam kehidupan sehari-harinya dengan adanya listrik.
Terpencil: Suasana Desa Tepian yang masih jauh dari suasana modern. (Foto: priskop.com)
Menurut Arnold salah satu warga Desa Tepian yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan menceritakan bagaimana kondisi desanya saat listrik masih menjadi sesuatu yang langkah. Arnold menceritakan begitu pentingnya kaleng susu atau kaleng minuman bagi warga. Karena penggunaannya yang dapat digunakan untuk lampu sumbu. Kaleng tersebut akan dilubangi tengahnya dan dimasukkan sumbu sebagai pusat api. Sumbu yang panjang di dalamnya akan menyerap minyak dalam kaleng dan menjadi sumber cahaya pada waktu malam.
“Ya, kalau dulu warga harus menyalakan lampu lewat lampu sumbu yang kita buat sendiri dari kaleng. Makanya dulu kaleng susu dan kaleng minuman sangat berharga di sini” ujar Arnold sambil tertawa.
Kaleng dengan sumbu adalah salah satu cara yang digunakan oleh warga untuk mendapatkan penerangan. Namun bagi warga yang mampu, membeli mesin Diesel adalah cara yang bisa dilakukan. Akan tetapi warga harus mengeluarkan biaya sebesar 1,5-2 juta rupiah per bulan untuk dapat menghidupkan mesin Diesel sebagai sumber listrik dalam kehidupan sehari-harinya. Itupun, mesin hanya akan menyala dari jam 5 sore sampai dengan jam 10 malam.
Sumber Listrik: Mesin diesel merupakan sumber listrik utama sebelum pembangkit listrik tepusat didirikan di Desa Tepian. (Foto: priskop.com)
Jumlah warga yang memiliki mesin Diesel juga terbatas dalam satu desa, bahkan mereka juga membagi sedikit listrik kepada tetangga sekitar yang meminta untuk dialiri listrik dengan kontribusi yang disepakati. Kontribusi yang dikeluarkan juga tidak sedikit, mengingat harga solar juga lebih mahal di desa ini. Harga solar di desa ini seharga Rp. 10.000 rupiah per liternya. Harga solar lebih tinggi dari pada di kota Tarakan karena warga membeli solar bukan dari SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) milik pertamina, melainkan dari salah satu warga yang memang menjadi agen tidak resmi untuk solar.
Tumpukan Galon: Dibutuhkan jumlah galon yang tidak sedikit untuk dapat menjaga agar listrik di rumah tetap menyala. Biaya untuk menyediakan bahan bakar jenis solar rata-rata sebesar 1,5-2 juta rupiah perbulannya. (Foto: priskop.com)

Inisiasi Warga dan Lampu Hijau Pemerintah

Desa Tepian sudah mengharapkan kehadiran listrik sejak kurang lebih dari 30 tahun yang lalu. Desa ini seolah diam dan tidak banyak bicara karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan pasokan listrik bagi desanya. Tidak berhenti berharap, warga desa yang berpenghuni 159 Kepala keluarga ini seolah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah ketika pemerintah mencanangkan program elektrifikasi untuk 2500 desa di seluruh Indonesia yang belum teraliri listrik pda tahun 2017 lalu.
Kepala Desa Tepian Nurdiansah didukung oleh perangkat desa lainnya berinisiatif untuk mengajukan kepada pemerintah daerah agar menjadi salah satu desa yang terdaftar dalam prioritas desa yang wajib teraliri listrik. Pemerintah Daerah dan jajarannya menanggapi pengajuan dari warga Desa Tepian untuk dapat menyampaikan usulannya kepada kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE (Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) dalam mewujudkan pembangkit listrik di daerah tersebut.
Kepala Desa Tepian, Hardiansyah merasa bersykur dan berterima kasih kepada segenap jajaran pemerintah pusat dan daerah serta dukungan warga setempat. Berkat kerjasama yang baik PLTS terpusat 75 KW dapat hadir di Desa Tepian.
Menurut Nurdiansyah, Kepala Desa Tepian, warga sangat mengharap kehadiran listrik di desanya. Dengan hadirnya listrik di desa tersebut, aktivitas warga yang selama ini terhambat karena tidak adanya listrik dan sering menjadi penyebab tertundanya pekerjaan, terutama untuk fasilitas umum seperti sekolah dan mushola. Untuk mengerjakan pekerjaan kantor disekolah warga harus menunggu malam hari dan membawa kerumah warga yang mempunyai mesin diesel.  Namun dengan hadirnya listrik di Desa Tepian, warga tidak harus lagi menunggu malam hari karena menuggu mesin menyala. Mereka bisa langsung mengerjakan pekerjaan untuk sekolah pada waktu siang hari, selain itu penerangan untuk jalan juga sangat membantu bagi warga Desa dan merasa aman.
“Setelah saya tahu bahwa pemerintah mempunyai program pemerataan listrik (elektrifikasi) saya langsung bergegas mengumpulkan warga untuk membicarakan hal ini dan secepatnya membuat pengajuan kepada pemerintah daerah. Alhamdulillah pemerintah daerah juga cepat dan sigap menanggapinya sehingga dalam waktu yang relatif singkat pengajuan kami bisa diterima oleh kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE yang kebetulan menangani ini”. Ungakap Hardiansyah.

Dari Tanah Hibah Milik Warga

Pemerintah memberikan lampu hijau untuk membangun pembangkit listrik terpusat di Desa Tepian pada pertengahan tahun 2017 lalu. Pada bulan Desember 2017, warga desa sudah dapat mencoba menikmati listrik walau masih sangat terbatas. Terwujudnya pembangunan PLTS ini tidak terlepas dari peran warga yang dengan sukarela menghibahkan tanahnya sebagai tempat berdirinya pembangkit listrik bertenaga surya ini.
Sebut saja Hamdani, dari hasil kajian tim pemerintah daerah dan juga kajian tim infrastruktur Ditjen EBTKE, tanah milik Hamdani adalah lokasi yang sesuai untuk didirikannya pembangkit listrik bertenaga surya tersebut. Menanggapi hal itu Hamdani dengan senang hati menghibahkan tanah miliknya untuk menjadi tempat pembangunan PLTS. Diatas tanah seluas satu hektar miliknya Hamdani menghibahkan sekitar ¼ dari luas tanahnya untuk kepentingan warga setempat. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai guru SMPN 014 Tepian ini dengan senang hati memberikan sebagaian tanah miliknya untuk kepentingan warga.
Lahan hibah ini adalah tanah yang diwariskan oleh ayah hamdani sebelumnya. Hamdani berharap dengan hibah tanah untuk kepentingan warga, orang tuanya akan merasakan pahala dari tanah yang dimiliknya. Berkat tanah miliknya proses pembuatan PLTS pun tidak menemui kendala yang berarti.
“ya, itu tanah milik orang tua saya yang sudah diwariskan kesaya. Tapi yang pasti karena dari hasil kajian, tanah saya adalah tanah yang bisa digunakan untuk PLTS, tanpa pikir panjang saya langsung mengajukan diri untuk menghibahkan agar warga segera mendapatkan listrik yang sudah lama ditungu dan diharapkan”. Ungkap Hamdani.
Kehadiran listrik di Desa Tepian membuat banyak perubahan. Bagaimana tidak kehadiran PLTS ini menjadi sesuatu yang membawa perubahan terhadap peradaban yang sebelumnya hidup tanpa listrik. Hal yang tidak kalah penting adalah keberadaan PLTS ini harus dijaga dan dikelolah oleh warga Desa Tepian agar bisa tetap dinikmati kedepannya. (Ris)

 

Bagaimanakah peranan pemerintah daerah dalam mempersiapkan keberlangsungan PLTS yang sudah lama dinanti oleh warga desa tersebut? Dan apa saja perubahan dalam pola hidup sehari-hari yang terjadi pada warga desa? Hal ini meninggalkan sebuah cerita dan sebuah eforia bagi warga desa. Baca ulasan selanjutnya.
 
Article Bottom AD