Dilema Kobalt Pada Baterai Berteknologi Tinggi

San Diego – Perkembangan teknologi baterai tak lepas dari sejarah dibangunnya energi bersih terbarukan.  Baterai diperlukan untuk penyimpanan energi dan mengamankan energi tambahan yang belum terpakai untuk siap digunakan sewaktu-waktu.  Namun, siapa sangka, di lain sisi, teknologi baterai justru bukan ‘teman’ sejalan bagi energi bersih terbarukan yang digadang-gadang ramah lingkungan dan aman bagi manusia.
Inti dari pro-kontra ini ada pada bahan Klobalt yang digunakan pada baterai.  Seperti dilansir scienttech, Shirley Meng yang merupakan seorang profesor dan insinyur nano di UC San Diego, mengacu pada praktik bertahun-tahun di Kongo untuk tambang Kobalt yang menggunakan anak-anak sebagai pekerja tambang.
“Beberapa bahan yang digunakan di baterai, seperti kobalt, memiliki banyak masalah kode etik perdagangan,” kata Shirley Meng.
Menurutnya, Kobalt adalah elemen kunci bagi banyak alat teknologi, sepertil ponsel dan mobil listrik.  Beberapa pihak telah lebih dulu berinisiatif mengganti Kobalt dengan bahan lainnya namun menuai kendala karena kepadatannya rendah sehingga kemampuan menyimpan energi menjadi tidak maksimal.
Membahas penggunaan Kobalt sebagai potensi konflik kepentingan dan masalah etika lainnya. Di Fleet Science Center, yang merupakan bagian dari rangkaian forum Ethics in Science and Technology  beberapa waktu lalu, dia mengatakan bahwa benar baterai berperan penting dalam energi terbarukan, namun apakah pernah terpikirkan bahwa di balik itu ada kenyataan pahit.
“Banyak orang benar-benar salah mengerti baterai sebagai terbarukan itu sendiri.  Kami hanya menyimpan elektron dan tidak peduli dari mana asalnya. Jadi jika gridnya tidak bersih, itu tidak membuat perbedaan,” katanya. (Liy)
Article Inline AD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Article Bottom AD

LEAVE A REPLY