Energi “Pasang Surut” Akan Diuji Coba di Indonesia

0
867
MINIATUR: Sebuah miniatur turbin SABELLA D10 yang dipampang di sebuah pameran teknologi energi terbarukan di Jakarta (dok.priskop.com)
Article Inline AD

Sumber energi untuk pembangkit listrik yang bersumber dari alam sebagai langkah untuk mencari sumber energi baru terbarukan, rupanya tidak hanya bersumber dari sinar matahari, arus air dan angin saja. Arus bawah air laut juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan energi listrik. Teknologi yang sedang dikembangkan adalah teknologi pasang surut atau Tidal Technology. Teknologi ini memanfaatkan energi potensial dan kinetik pada aliran pasang surut air laut.

Selain solar panel sebagai salah satu sumber energi listrik, rupanya Indonesia telah mempersiapkan uji coba untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga arus bawah laut atau yang biasa di sebut dengan Tidal. Salah satu kelebihan dari turbin yang diputar dengan pemanfaatan arus air laut ini adalah kemudahannya dalam memprediksi keberadaan dari pergerakan pasang dan surut air laut secara akurat. Prediksi ini meliputi arah, gerak, waktu dan besaran dari pergerakan pasang dan surutnya air laut. Rupanya hal inilah yang membuat teknologi ini menjadi teknologi yang dikembangkan sebagai alternatif energi baru terbarukan.

Akan tetapi teknologi ini juga mempunyai kekurangan di samping kelebihannya dibandingkan dengan teknologi pembangkit tenaga angin dan tenaga surya yang lebih dulu dikembangkan. Karena letaknya yang berada di dalam laut sehingga diperlukan alat konversi yang benar-benar bertahan terhadap kerasnya tekanan air laut dan tingkat korosi yang tinggi.

Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut atau PLTPs ini pada awalnya dikembangkan di Perancis dan terletak di muara sungai Rance tepatnya di sebelah utara kota Perancis. Pembangkit yang sudah beroperasi sejak tahun 1966 ini telah menghasilkan listrik dengan kapasitas sebesar 240 MW.

Prinsip dasar dari teknologi ini adalah pemanfaatan dua energi yang dihasilkan oleh arus pasang dan surut air laut, yaitu energi potensial dan energi kinetik yang dihasilkannya. Untuk energi potensial yang dihasilkan adalah energi dari gelombang pasang dan surut air laut itu sendiri sedangkan untuk energi kinetik yang dihasilkan dari teknologi ini adalah energi yang dihasilkan dari selisih ketinggian antara pasang dan surut air laut.

Dibandingkan dengan solar (matahari) dan wind (angin) memang energi ini mempunyai akurasi yang tinggi untuk prediksi seputar faktor energi pendukung energi potensial dan gravitasi yang akan dihasilkan dari pasang dan surutnya arus air laut. Untuk energi dengan sinar matahari dan energi dengan pemanfaatan angin, prediksi musim dan cuaca adalah faktor yang memungkinkan penyerapan dari energi ini menjadi tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Berbeda dengan pemanfaatan arus pasang dan surut yang bisa lebih mudah diprediksi sebelumnya.

Sehubungan dengan akan diuji coba nya teknologi ini di Indonesia, yang akan bekerjasama dengan pabrikan asal Perancis SABELLA SAS melalui konsorsium MPS dua perusahaan dari Indonesia yaitu PT. Meindo Elang Indah dan PT. Prima Langkah Paratama (konsorsium MPS). Dari hasil konsorsium ini telah dihasilkan 40% tingkat komponen dalam negeri yang menjadi salah satu prasyarat dalam proyek dengan keterlibatan investor asing.

Menurut Manunggal Sukendo, Mechanical Engineer SABELLA SAS, Perancis menyampaikan, bahwa pihaknya telah melakukan kerjasama dengan Indonesia. Dan saat ini masih dalam tahap finalisasi dan agreement dengan P3GL ESDM (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Energi Sumber Daya Manusia).

“Pihak Kami (SABELLA SAS) sudah ada kerjasama dengan Indonesia dan saat ini sudah melalui tahap finalisasi agreement dengan P3GL ESDM. Kerjasama ini melalui konsorsium MPS yang mana SABELLA SAS merupakan bagian dari konsorsium tersebut.” Jelas Sukendo.

Dia juga menyampaikan secara teknis pembangkit arus bawah laut ini dapat dipasang di kedalaman 50 meter dari permukaan air laut seperti yang telah dilakukan di Perancis sebelumnya. Untuk di Indonesia sendiri memang harus dilakukan studi bathymetri sebelumnya. Uji studi ini bertujuan untuk mengukur dasar lautnya dan berapa kecepatan arus yang terdapat pada laut tersebut. Selain untuk mengukur hal-hal teknis lainnya Sukendo juga menyampaikan bahwa perlunya juga dilakukan studi dari sisi lingkungan agar menghindari kerusakan lingkungan disekitarnya.

Rencananya, proyek ini akan menggunakan turbin SABELLA D10 buatan pabrikan asal Perancis tersebut. Turbin yang sudah teruji dengan pengujian lapangan dan pemantauan selama kurun waktu November 2015 hingga Maret 2016, SABELLA D10 telah memberikan asupan energi di pulau Ushant Perancis sebesar 70 MWh. Sehingga SABELLA D10 menjadi produk yang sudah terbukti untuk diuji coba di Indonesia.

SABELLA SAS sendiri adalah perusahaan pengembang teknologi turbin asal Perancis yang didirikan pada tahun 2008. Setelah sukses mengoperasikan SABELLA D03 pada 2008 perusahaan pengembang turbin berbasis pasang surut air laut ini melangkah ke depan dengan produk turbinnya SABELLA D10. Produk ini menjadi produk unggulan yang mengangkat nama dari SABELLA dengan berhasilnya mereka memberikan energi listrik pada pulau Ushant di Perancis. SABELLA D10 adalah satu-satunya turbin yang beroperasai dan terhubung dengan jaringan listrik nasional Perancis.

 


Written by: Ris                                                                                                               Edited by: Y&S

Article Bottom AD

LEAVE A REPLY