Gandeng Swedia, PJCI Buka Peluang Pengembangan Smart Grid di Indonesia

0
77
Eddy Widiono, Ketua PJCI saat memberikan sambutan dalam acara Seminar yang diselenggarakan oleh The Swedish Trade & Invest Council dan di organisir oleh PJCI. (Foto: priskop.com)
Jakarta, Prakarsa Jaringan Cerdas (PJCI) bekerja sama dengan The Swedish Trade & Invest Council menggelar seminar yang bertajuk “Swedish Solutions For Indonesia’s Smart Grid” dan diikuti oleh empat perusahaan energi dari Swedia yang dikoordinir oleh Swedish Energy Agency. Dalam seminar ini juga dihadiri oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Ditjen Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian ESDM. Seminar ini bertujuan untuk membuka peluang-peluang investasi dan kerja sama kedepan dalam pengembangan energi baru terbarukan dan pengembangan smart grid di Indonesia.
Melalui seminar yang diselenggarakan pada Senin, 23/04/18 ini, perusahaan-perusahan asal Swedia mencoba untuk mendalami permasalahan dan pertumbuhan smart grid yang ada di Indonesia untuk selanjutnya dapat dikembangkan menjadi peluang kerja sama bagi kedua negara.
Pendiri PJCI Eddy Widiono menyampaikan bahwa perkembangan smart grid merupakan hal yang penting dewasa ini terutama dalam pengembangan energi baru terbarukan.
Smart grid merupakan hal yang essential yang sudah harus disiapkan dan harus mulai dikembangkan oleh PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang mengatur perkembangan energi kelistrikan di Indonesia, seiring dengan pertumbuhan teknologi digital dewasa ini.” Ujarnya.
Mantan direktur PLN periode 2003-2008 ini juga menyampaikan bagiamana pertumbuhan smart grid di Indonesia yang bisa dibilang masih membutuhkan perhatian dan kesiapan untuk kedepannya.
Untuk mencapai kesiapan itu Chrisnawan Anditya, Kepala Bagian Rencana dan Laporan Sekretariat Ditjen Ketenagalistrikan menyampaikan materi diskusi dalam sesi seminar yang digelar di hotel Le Meridien ini, bahwa PLN telah menyadari dan mempersiapkan hal itu. Indonesia telah menghadapi era dimana kelistrikan telah mengalami perubahan tidak hanya untuk penerangan, akan tetapi juga untuk kebutuhan yang lain. Hal ini dikarenakan suplai listrik saat ini bukanlah sesuatu yang menjadi masalah utama akan tetapi sudah beralih menjadi bagaimana kualitas kelistrikan menjadi hal utama. Maka dari itu dibutuhkan sebuah kesiapan dari sektor digital untuk mengatasi hal itu.
“nah, dengan kondisi saat ini dimana masyarakat Indonesia saat ini menghadapi kondisi dimana kualitas dari tenaga listrik telah menjadi hal yang harus diperhatikan, bukan lagi kebutuhan suplai melainkan kualitas. Disinilah peranan jaringan cerdas, jaringan digital yang dapat mengakomodir kebutuhan akan hal itu.” Ungkap Chrisnawan.
Diharapkan dengan seminar ini kebutuhan akan tantangan dalam pengembangan jaringan listrik pintar di Indonesia dapat menemukan solusi.
Menurut Nofilia Kiki, Consultant, The Swedish Trade & Investment Council, program yang telah diselenggarakan selama tiga tahun terakhir ini adalah salah satu usaha untuk menjaring peluang-peluang kerja sama antara Swedia dan Indonesia.
“dari program ini kami mengharapkan tidak hanya kita memperkenalkan keempat perusahaan yang ikut serta dari Seminar ini, akan tetapi juga membuka peluang-peluang kerja sama yang dapat dijalin oleh perusahaan-perusahaan dari Swedia dengan perusahaan Indonesia.” Ujar Kiki.
Seminar ini diikuti oleh empat perusahaan energi dari Swedia yaitu Unipower, Metrum, Hughes Power System dan S-Man Energy. (Ris)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY