GIZ Gandeng EBTKE, Gelar Kegiatan Indonesian-German Renewable Energy Day

Suasana kegiatan 2018 Indonesian-German Renewable Energy (RE-Day), di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Rabu (21/11/2018). Foto: Ditjen EBTKE / Humas EBTKE
Article Inline AD

 

Jakarta,- Dalam rangka meningkatkan peran dan partisipasi sektor swasta dalam mengembangkan energi terbarukan di pulau-pulau di Indonesia, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusmmenarbeit GmbH (GIZ) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menggelar kegiatan 2018 Indonesian-German Renewable Energy Day (RE-Day), di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Kegiatan Re-Day ini diselenggarakan untuk menyambut 25 tahun Kerjasama Indonesia dan Jerman di bidang energi terbarukan, selain juga untuk memperkokoh kerjasama selanjutnya.

Acara ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari lembaga pemerintah dan lembaga terkait, PLN, perusahaan di bidang energi terbarukan, lembaga think tank, lembaga pendanaan proyek dan asosiasi sektor energi terbarukan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Dirjen EBTKE Rida Mulyana dan dihadiri oleh Duta Besar Jerman untuk Indonesia Peter Schoof, serta Direktur Program Energi GIZ  Indonesia/ASEAN Rudolf Rauch. Hadir pula Sekretaris Pertama dan Wakil Kepala Urusan Ekonomi Kedubes Jerman untuk Indonesia Andreas Kleine dan Kementerian Lembaga terkait. Seperti Plt. Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Wisnu W. Soedibjo.

Beberapa perusahaan Jerman juga hadir pada forum ini. Antara lain: BayWa.re (RE projects and financing, office in Indonesia), Envitec (Bioenergy technology, office in Indonesia (EUROCHAM), Siemens (Power/RE, office in Indonesia), Steag (Geothermal, office in Indonesia), SMA (PV-Inverter technology, Germany), Tesvolt (Battery technology, Germany) dan Equadrat (RE project development, Germany)

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal EBTKE Rida Mulyana mengatakan bahwa salah satu tantangan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia adalah mempercepat transisi dari energi diesel ke energi terbarukan. Hal ini sama seperti yang pernah disampaikan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan.

“Pak Menteri (ESDM) sering sampaikan, energi terbarukan itu sangat penting. Hanya saja yang perlu dijawab adalah mempercepat transisinya,” ujar Rida.

Rida menyampaikan terima kasih kepada Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, yang selama ini telah menjalin kerja sama yang baik dengan Pemerintah Indonesia, khususnya di bidang energi terbarukan. Dia berharap, kerja sama ini dapat terus terjaga dengan baik ke depannya.

Rida juga berharap, program kerjasama Indonesia dan Jerman dapat membantu Indonesia mengatasi tantangan dalam mengembangkan energi terbarukan dan meningkatkan kapasitas untuk mencapai target energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Pada forum ini dilaksanakan pula penandatanganan Nota kesepahaman(MoU) antara Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) dan Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) dengan Bundesverband Solarwirtschaft e.V. (BSW) dari Jerman yang bergerak pada pengembangan PLTS atap atau rooftoop.

MoU menjadi landasan untuk perencanaan kerjasama lebih lanjut antara Asosiasi Indonesia dan Jerman. Yakni, terkait peningkatan kapasitas SDM asosiasi, pengembangan pedoman standar keselamatan dan penerapan teknologi serta advokasi dalam kebijakan, peraturan dan insentif energi terbarukan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program Energi GIZ untuk Indonesia/ASEAN Rudolf Rauch mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa, jika dibandingkan dengan Jerman. Salah satu contohnya yaitu tenaga surya. Namun realisasi energi surya di Indonesia saat ini hanya berkisar di 0.09 Giga Watt peak (GWp), berkebalikan dengan Jerman yang menghasilkan sebanyak 45 GWp listrik dari tenaga surya.

“Forum RE-Day merupakan sebuah kesempatan bagi perusahaan-perusahaan Indonesia dan Jerman untuk terus bekerja sama untuk mendukung Pemerintah Indonesia mencapai kebutuhan energi nasional dengan meningkatkan energi terbarukan dengan biaya yang semakin terjangkau,” kata Rudolf.

Untuk diketahui, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH atau GIZ adalah perusahaan internasional milik Pemerintah Federal Jerman yang beroperasi di lebih dari 130 negara. GIZ bekerja dalam ruang lingkup kerja sama internasional untuk pembangunan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, GIZ bekerja sama dengan pemerintah, lembaga negara dan juga sektor swasta.

(Nataniel Pekaata)

Article Bottom AD