Gunung Sampah Afrika Disulap Jadi Energi Listrik

0
64
Ethiopia – Afrika adalah benua dengan urbanisasi tercepat di dunia. Sementara kehidupan kota telah membantu mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan, transformasi cepat pun telah menciptakan masalah baru yakni gunung-gunung sampah kota.  Ada seorang pengusaha Ethiopia yang peduli dengan hal ini.  Dia menangani krisis itu dengan energi terbarukan dengan pembuatan pabrik pengolahan sampah menjadi listrik .
Adalah Samuel Alemayehu, seorang insinyur dari Stanford, yang juga mantan pengusaha Lembah Silikon dan Pemimpin Muda Global Forum Dunia Ekonomi, mengatakan bahwa pabrik itu akan memasok 30 persen kebutuhan energi rumah tangga di Addis Ababa dan membakar sekitar 80 persen dari sampahnya.  Itu berarti ada 1.400 ton sampah setiap harinya.
Saat ini Alemayehu tengah mengawasi proyek senilai 120 juta dolar Amerika sebagai co-founder di Cambridge Industries. Bersama dengan mitra JV Tiongkok CNEEC, telah bergabung dengan pemerintah Ethiopia dan konsorsium perusahaan internasional untuk mengubah limbah-limbah menjadi sesuatu yang berguna.
“Kami mengubah salah satu masalah sosial paling menantang di Afrika, yakni pengelolaan limbah menjadi sumber kekayaan baru”, kata Cambridge Industries.
Hingga saat ini, sampah Addis Ababa dibuang di area landfill yang luas dan terus berkembang, yang mencakup area luasnya setara 36 lapangan sepak bola.  Bocoran limbah dari lokasi tersebut pun kini telah mencemari sungai-sungai di dekatnya.  Sementara limbah itu sendiri menghasilkan metana, gas rumah kaca yang kuat.
Pada saat yang sama, pasokan listrik Ethiopia gagal mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi lebih dari 10 persen setiap tahun.  Pemerintah di sana juga membangun pabrik pengolahan sampah, bernama Pabrik Reppie, yang telah memenuhi standar emisi dan dirancang untuk menyelesaikan kedua masalah tersebut.
Pabrik membakar sampah ibukota pada suhu hingga 1.800 derajat Celcius dan mengubahnya menjadi 185 juta KW jam listrik per tahun. Reppie adalah bagian dari rencana Ethiopia yang lebih luas untuk meningkatkan standar hidup sekaligus membatasi emisinya, sebuah strategi yang disebut sebagai membangun “ekonomi hijau yang tahan terhadap perubahan iklim”.
Kesemuanya merupakan rencana pemerintah dalam menginvestasikan 2 miliar dolar Amerika setiap tahunnya untuk memperluas pembangkit energi terbarukan negara itu hingga 2030 dengan menggandakan pengeluaran tahunan saat ini sebesar 1 miliar dolar Amerika. Pembiayaan yang direncanakan akan mencakup investasi swasta, dana iklim, dan penjualan energi bersih ke negara-negara tetangga.
 “Kami berharap bahwa Reppie akan berfungsi sebagai model bagi negara-negara lain di kawasan ini, dan di seluruh dunia”, kata Zerubabel Getachew, wakil permanen wakil Ethiopia untuk PBB di Nairobi.
Alemayehu pun sudah berupaya memperluas jangkauan energi terbarukan di benua itu. Dia memiliki rencana untuk membangun pabrik limbah menjadi energi serupa di Uganda, Kenya, Kamerun, Senegal, dan Djibouti.
“Kota-kota Afrika telah mengalami pertumbuhan eksplosif dalam tiga dekade terakhir dan telah melampaui infrastruktur yang direncanakan untuk mereka.  Kami percaya bahwa pabrik ini akan menciptakan kota-kota besar Afrika modern, infrastruktur multiguna, menggunakan teknologi baru, yang akan memungkinkan mereka secara bersamaan membuang limbah dan menghasilkan energi yang berkelanjutan, membersihkan dan menggunakan kembali air, mendaur ulang sumber daya berharga, menghasilkan uap kelas industri untuk digunakan oleh bisnis lain dan, yang paling penting, melakukan semua ini dalam satu fasilitas yang berlokasi aman di dalam batas kota. ” tutup Alemayehu. (Liy)
 
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY