Herman Darnel Ibrahim (HDI): Pentingnya Belajar Sejarah

0
183
Taman Belakang: Kolam di taman belakang rumah CASA DEDAR yang berlokasi di daerah Cipete, Jakarta Selatan. (Foto: priskop.com)
HDI begitu biasa namanya disingkat, yang jelas akronim tersebut bukan singkatan dari salah satu brand motor gede asal negeri Paman Sam yang di Indonesia. Herman Darnel Ibrahim begitulah kepanjangan  dari 3 huruf tersebut. Ramah dan renyah dalam setiap obrolannya itulah kata yang pas untuk menggambarkan pria kelahiran Payakumbo Sumatera Barat ini. Di kediamannya yang terletak di daerah Cipete Jakarta Selatan, ‘CASA DEDAR’ begitulah kata yang tertempel di pojok kanan pagar rumahnya. ‘CASA’ adalah Rumah yang diambil dari Bahasa Spanyol, sedangkan ‘DEDAR’ adalah gabungan dari dua nama yaitu Dewanti dan Darnel. Dewanti adalah nama wanita yang selama ini dengan setia menemani Herman dalam perjalanan hidupnya.
Lahir pada bulan April 1954 Herman Darnel Ibrahim atau Herman begitu biasanya Ia disapa, menempuh pendidikan sarjananya di Institut Teknologi Bandung dengan Jurusan Elektro. Selepas dari menempuh Pendidikan Sarajananya, pria yang gemar traveling ini mencoba  untuk berkarir di perusahan listrik milik negara (PLN) pada tahun 1978.
Rupanya perusahaan listrik plat merah inilah yang banyak membawa karirnya sampai dengan puncak karirnya. Pada tahun 2003, Herman berhasil menempati posisi tinggi pada perusahaan penyedia listrik milik negara tersebut. Herman didapuk menjadi Direktur Transmisi Distribusi PLN sampai dengan periode 2008. Selain membawanya sebagai jajaran direksi ditubuh PLN, perusahaan listrik ini jugalah yang banyak memberinya pengalaman sekaligus mengirimnya untuk lebih dalam mendalami keilmuan dibidang tenaga kelistrikan. Herman dikirim oleh PLN sebagai tugas belajar di University of Manchester Inggris dengan jurusan Power System Analysis dan berhasil menyelesaikan pada tahun 1986. Selain memberikan angin segar baginya untuk menyalurkan hobi utamanya yaitu traveling tugas belajar ini sekaligus mengantarkannya ke jenjang karir yang lebih tinggi.

Belajar Dari Sejarah adalah Hal Penting

Herman menyadari pentingnya sebuah Sejarah bagi kita untuk memperbaiki dan memulai sesuatu yang baru. Tentunya kita tidak bisa lepas dari sejarah, baginya riset dan perkembangan tanpa didasari oleh pengetahuan sejarah juga akan mengalami kekurangan.
“Coba kita pelajari dan ingat-ingat sejarahnya seperti apa, maka dari itu Sejarah itu penting agar kita bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan dan memperbaikinya di masa sekarang. Makanya pelajaran dan pengetahuan sejarah sangat penting untuk kita jadikan referensi.” Tutur Pria yang pernah meraih penghargaan dalam pembangunan ketenaga listrikan  oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2005 ini.

Piala Dunia dan Kerugian 15 Miliar Perhari

Menjadi Direktur Transmisi Distribusi bukanlah hal yang mudah, banyak rintangan dan juga kendala yang harus dihadapinya sewaktu memegang  taggung jawab tersebut. Pria yang juga pecinta hal yang berhubungan dengan arsitek dan berkebun ini menceritakan sedikit pengalamannya yang tidak terlupakan saat menghadapi sulitnya pembebesan lahan di Jawa Tengah. Masalah yang sering dihadapi oleh Divisi Transmisi adalah seputar pembebasan lahan, banyak masyarakat yang menuntut biaya kompensasi melebihi dari ketentuan yang telah diatur dan dibuat oleh pemerintah. Tugas PLN hanyalah sebagai pelaksana dari tata aturan yang telah dibuat pemerintah.
Masalah ini terjadi pada tahun 2006, terjadi di Jawa Tengah. Masalah ini terjadi lantaran tingginya permintaan warga atas ganti rugi lahan yang akan dilewati jalur transmisi tegangan tinggi penghubung antara Klaten dan Depok yang berjarak 3 gawang – istilah jarak antara tower listrik – yang berjarak antara 1,5 kilometer.  Walaupun  pendek namun dampak dari terhambatnya transmisi terhubung antara dua wilayah tersebut mengakibatkan sumber listrik untuk pasokan wilayah barat diambil dari pembangkit di Muara Karang. Pembangkit yang bersumber dari diesel atau PLTD ini menggunakan bahan bakar solar, sehingga selisih dari penggunaan bahan bakar batubara dari pembangkit wilayah Timur yaitu Paiton adalah 15 Miliar perhari. Singkat kata PLN harus menanggung biaya sebesar 15 Miliar perharinya.

“Karena mau Piala Dunia jadi nanti kalau listriknya mati-mati akan jadi isu Nasional.”

Beragai cara Ia tempuh untuk segera menghubungkan transmisi dari dua daerah tersebut (Klaten-Depok). Tahapan pertama yaitu melakukan negosiasi dengan bantuan Sri Sultan Hamengkubowono X untuk berkoordinasi dengan jajaran Bupati. Sampai pada saatnya Ia menyampaikan kepada Bupati di daerah tersebut bahwa jangan sampai hal ini menjadi isu Nasional. Dalam waktu dekat akan ada perayaan Piala Dunia 2006. Dengan adanya ketersendatan transmisi yang belum terhubung, hal ini akan menjadi konsen masyarakat ketika listrik akan mengalami kendala bahkan akan terjadi pemadaman secara berkala. Walhasil Bupati Klaten dan jajarannya berhasil meyakinkan warga dan menghubungkan transmisi tersebut dengan kompensasi yang sudah diatur oleh Negara.
“Waktu itu saya sudah menemui Sri Sultan Hamengkubowono X dan juga jajaran Bupati, akan tetapi saya menemui secara  terpisah yah. Nah, setelah kami temui saya masih ingat waktu itu bertepatan dengan Piala Dunia 2006. Kemudian saya mengingatkan Bupati Klaten waktu itu. Karena mau Piala Dunia jadi nanti kalau listriknya mati-mati akan jadi isu Nasional. Matinya dari mana? karena masih ada tiga gawang ini. Akhirnya Bupati dan jajarannya berhasil meyakinkan warga waktu itu.” Ujar Herman sambal tertawa mengingat peristiwa itu.
Pria yang menyukai mottoWinners Never Quit, Quitters Never Win” ini juga menceritakan bagaimana pada waktu Ia menjadi Direktur Transmisi periode 2003 sampai dengan 2008 telah banyak menelurkan perubahan-perubahan positif di tubuh perusahaan listrik negara tersebut. Salah satunya adalah dirancangnya RUPTL selama 10 tahun yang sebelumnya adalah Rensalita untuk rencana yang hanya lima tahun kedepan. Dia jugalah yang mempublikasikan RUPTL sehingga dapat diawasi dan diketahui masyarakat luas. Pria yang juga pernah aktif di Dewan Energi Nasional (DEN) tahun 2009 sampai 2014 juga telah banyak menjadi pembicara saat bertugas di DEN baik di dalam maupun luar negeri.

98 Negara dan Ujung Dunia Telah Dilaluinya

Koleksi Tongkat: Hobi plesir rupanya membuatnya membeli beberapa tongkat dari negara-negara dan daerah yang telah dikunjunginya. Enam puluh tongkat yang telah Ia koleksi hingga saat ini. (Foto: priskop.com)
Kecintaan Herman terhadap traveling rupanya tidak main-main, hal ini ditunjukkan dengan jumlah kunjungan negara yang telah mencapai 98 negara. Bahkan ujung dari duniapun telah Ia sambangi yaitu Husavik sebuah Kota  di Islandia dan yang baru-baru ini Ia lawat adalah Elephant Island di Antartika pada Januari 2011 lalu. Tidak hanya itu 33 provinsi dan kota-kota besar di Indonesia juga telah Herman kunjungi. Bapak dari tiga anak ini juga mengaku sering melakukan perjalanan dengan rute-rute jalan yang jarang dilalui seperti pada umumnya, baik itu dengan sopir ataupun Ia kemudikan sendiri.
Menyelam: Usia rupanya tidak membuatnya berhenti untuk menyelam.
Berusia 64 tahun bukanlah halangan bagi Herman untuk tetap menyalurkan hobinya, akhir bulan maret 2018 lalu Herman baru saja menyusuri dalamnya laut di Gorontalo dengan teknik menyelam SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus) di kedalaman hampir 30 meter.
“Sekarang kan sudah tua, dulu saya menyelam bisa sampai 40 meter, tapi sekarang 30 meter aja sudah bagus” Ungkap Herman sambil diikuti gelak tawa.

Menikmati Masa Pensiun dengan Kolam dan Ikan

Gardening: Hobi yang juga ditekuninya, membuat Ia sibuk dengan aktivitas sehari-hari dengan merawat tanaman disekitar rumahnya. (Foto: priskop.com)
Dimasa pensiun, pria yang dikarunia dengan dua putri dan seorang putra ini tidak lantas berhenti dan berkurang kesibukan kesehariannya. Justru di masa pensiun Ia sibuk dengan hobi yang berhubungan dengan Gardening dan juga memelihara ikan. Setiap hari Herman selalu sibuk dengan tanaman-tanaman yang ada di sekitar rumahnya dan juga memberi makan ikan yang ada di tiga kolam di sekitar rumahnya. Ia mengakui senang dan tidak perlu repot-repot berolah raga karena dengan melakukan aktivitas rutinnya Ia merasa bugar dan cukup berkeringat.
“Setiap pagi saya yang merawat tanaman diseluruh rumah, tidak ada orang yang membantu untuk hal ini hanya saya dan istri saya. Saya yang bertanggung jawab untuk urusan tanaman dirumah.” Terang Pria pengagum tokoh Mahatma Gandhi ini.
Memelihara ikan adalah salah satu kesukaannya, baginya saat-saat memberi makan ikan adalah hal yang sangat menyenangkan. (Foto: priskop.com)
Kecintaannya terhadap ikan sudah dimulai sejak lama, Ia mengakui bahwa memelihara ikan merupakan hal yang menyenangkan. Sejak 1990 Ia memelihara ikan sampai saat ini. Baginya saat – saat memberi makan ikan itulah hal yang paling menyenangkan.
(Foto: priskop.com)
“gak tau kenapa saya suka sekali dengan ikan, itu bahkan ada 3 kolam dirumah saya berisi ikan yang besar-besar. Jadi kalau kita perlu dan ingin makan ikan tingal dipancing saja atau dijaring. Saat paling saya suka kalau pas mau kasih makan, mereka seolah tau saya datang dan akan memberi makanan.” Tutur Herman sambil menunjukkan salah satu ikan Nila yang berukuran besar. (Ris)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY