Indonesia Lirik Investor Asing untuk Kembangkan EBT

0
18
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar saat memberi sambutan daam acara Indonesia Norway Energy Workshop. (Foto: ESDM)
Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan pihaknya berambisi untuk menyediakan 23% pasokan dari sumber EBT pada 2025. Namun menurutnya, untuk mencapai target itu bukanlah sesuatu yang mudah. Diperlukan upaya yang kuat dan bantuan dari investor dalam maupun luar negeri.
Hal tersebut diungkapkan Arcandra saat memberikan sambutannya pada acara Indonesia-Norway Energy Workshop di Gedung Kementerian ESDM Jakarta, Kamis (12/4/2018). Pada agenda tersebut, kedua negara membahas mengenai tren penggunaan energi di dunia yang sudah beralih dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).
“Meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan bukanlah tugas yang mudah. Kami harus bekerja keras untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dengan harga terjangkau. Kami memiliki target ambisius untuk menyediakan 23% pasokan energi pada 2025 yang berasal dari energi terbarukan,” kata Arcandra saat memberikan sambutannya.
Dia menjelaskan, pemerintah telah melakukan upaya untuk mencapai target 23%. Salah satunya adalah merumuskan peraturan tarif untuk menarik lebih banyak investor dalam proyek energi terbarukan.
“Kami memastikan bahwa pengembangan energi, khususnya energi terbarukan, memerlukan investasi asing dan kerja sama dengan negara lain. Penting bagi Indonesia dan negara lain untuk berjalan bersama demi mencapai keuntungan bersama. Kami mendorong sektor swasta termasuk investor Norwegia untuk berpartisipasi dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia, terutama Indonesia Timur, untuk membantu kami dalam memenuhi kebutuhan energi kepada masyarakat,” ujar Arcandra.
Sementara itu, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Ditjen EBTKE, Harris, menambahkan, kerja sama pengembangan energi terbarukan dengan Norwegia merupakan langkah yang tepat. Norwegia memiliki pengalaman dalam pengembangan tenaga air sebagai energi. Sekitar 98% kebutuhan energi mereka diperoleh dari pembangkit listrik tenaga air.
Selain itu, Harris mengatakan Norwegia juga memiliki kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan seperti, pembangkit listrik tenaga bayu, air, dan pembangkit listrik tenaga matahari.
“Kita mengundang mereka untuk menginvestasikan dana mereka di sektor pembangkitan renewable kita, khususnya yang berbasis tenaga air, solar, angin dan waste to energy,” ujar Harris. Jika pihak Norwegia tertarik untuk mengembangkan energi baru terbarukan di Indonesia menurut saya itu sangat baik sekali,” ungkap Harris. (Nan)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY