Ini Dia Keunggulan Teknologi Blockchain di Sektor Listrik

0
27
Pendiri Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) Eddie Widiono menjelaskan teknologi blockchain dalam seminar Smart Energy Revolution di Elenex Indonesia 2018, JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Foto: Priskop)
Article Inline AD

Jakarta – Dalam seminar Smart Energy Revolution dengan sub tema Industri dan Teknologi, Pendiri Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) Eddie Widiono menyampaikan keunggulan dari teknologi Blockchain. Teknologi Blockchain adalah teknologi perekaman data yang berkembang, terhubung, dan diamankan menggunakan teknik kriptografi (rahasia/sandi). Setiap blok biasanya memuat hash (fungsi matematis) kriptografis dari blok sebelumnya, timestamp (urutan karakter), dan data transaksi.

Teknologi blockchain diprediksi akan diterapkan di dunia ketenagalistrikan dalam waktu dekat. Salah satu keunggulan teknologi ini ialah transparan dan tidak bisa dipalsukan karena menggunakan teknik kriptografi dalam mengamankan data-data.

“Karena dia menggunakan suatu sistem namanya hashing, suatu metode kriptologi yang dikenakan pada waktu seseorang akan mengubah data, ini, dia diubah dengan suatu sandi. Algoritma itu dipakai untuk mengamankan datanya supaya tidak mudah dipalsu,” jelas Eddie di acara listrik cerdas Elenex Indonesia 2018, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (20/9/2018).

Keunggulan selanjutnya, menurut Eddie, teknologi ini awet dan kuat. Ia menjelaskan bahwa teknologi ini sudah diterapkan pada crypto currency trading. “Dia durable and robust, sudah teruji sebagai suatu sistem. Dan sekarang itu kalau Anda dengar bitcoin, bitcoin itu suatu implementasi dari teknologi Block Chain ini,” lanjutnya.

Keunggulan lainnya ialah sistem keamanan yang terjamin karena sifatnya yang transparan dan tidak bisa dipalsukan. “Tidak bisa di-corrupt, maka ini sangat secure, mekanismenya sangat secure,” tambah Eddie.

Dari keunggulan tersebut, kemudian akan memunculkan kepercayaan dari pembeli. “Ini akan menimbulkan trust. Karena ada trust, kita tidak lagi perlu ada proses yang KYC (Know Your Customer). begitu Anda sudah masuk di situ, maka Anda sudah teruji, tidak ada lagi tidak perlu lagi melalui proses pengecekan. Oleh karena itu tadi, maka point of control ini diatur bersama, itulah makna desentralisasinya,” terangnya.

Apabila teknologi ini diterapkan di sektor listrik, sistemnya disebut desentralisasi karena sistemnya tidak menggunakan istilah server utama yang sewaktu-waktu terkena gangguan. “Yang paling penting adalah dia (blockchain) suatu teknologi yang decentralized, tidak mengenal suatu server yang menjadi pengatur utama. Kalau ada gangguan di komputer (server utama) yang mengatur itu tadi, maka the whole system ini kacau. Tapi dengan sistem yang decentralized seperti ini, ini tidak terjadi,” ujar Eddie.

Selain itu, teknologi blockchain juga sudah mempunyai perhimpunannya bernama Asosiasi Blockchain Indonesia. Meskipun saat ini masih seputar bitcoin crypto currency trading, asosiasi ini mulai mendesain platform untuk penggunaan lain.

“Sudah ada Asosiasi Blockchain Indonesia. Meskipun ini bidangnya baru, masih dalam soal bitcoin crypto currency trading, tetapi mereka sekarang sudah mulai mendesain platform untuk penggunaan-penggunaan yang lain. Saya sudah masuk dalam suatu working group yang menawarkan satu block chain platform untuk trading energy, nanti akan kita jelaskan lebih jauh. Ini buatan inovasi lokal,” pungkas mantan Dirut PLN ini. (herry heryanto)

Article Bottom AD

LEAVE A REPLY