Ini Dia Lokasi Proyek PLTB di Indonesia

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andy Noorsaman Sommeng. (Foto: Istimewa)
Article Inline AD

Jakarta – Pemerintah terus mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 dengan menggenjot sejumlah proyek pembangkit listrik EBT. Salah satunya dengan menggarap proyek pembangkit listrik tenaga bayu atau angin (PLTB) sebesar 1.725 MW atau 1,7 GW di berbagai wilayah Indonesia.

Ada 23 proyek PLTB yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia sedang dilakukan pengembangan oleh para pengembang mulai dari tahap rencana, feasibility study (FS) atau studi kelayakan, tahap pengukuran, tahap power purchase agreement (PPA), maupun tahap konstruksi. Sebelumnya, PLTB Sidrap 75 MW telah resmi beroperasi pada Juli 2018 lalu.

“Ada sekitar 1.725 MW proyek PLTB yang dikembangkan. Mulai dari tahap rencana hingga tahap konstruksi seperti PLTB Tolo dan telah beroperasi seperti PLTB Sidrap 75 MW,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, kemarin (24/9).

Seperti ditulis di laman resmi Kementerian ESDM, ada proyek PLTB di Sukabumi 10 MW yang dalam tahap PPA dan proyek PLTB Jeneponto 72 MW yang dalam tahap konstruksi. Sementara, yang dalam tahap FS, pengukuran maupun rencana antara lain berlokasi di Sukabumi di Jawa Barat 170 MW, Lebak dan Pandeglang di Banten (masing-masing 150 MW), Tanah Laut di Kalimantan Timur 90 MW, Jeneponto 175 MW, Sidrap Phase II 75 MW, Sidrap Phase III 200 MW, Selayar di Sulawesi Selatan 5 MW, Buton di Sulawesi Tenggara 15 MW, Kupang 2X10 MW, Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur 3 MW serta Ambon 15 MW, Kei Kecil 5 MW, dan Saumlaki di Maluku 5 MW, Gunung Kidul di Yogyakarta 10 MW, Belitung Timur 10 MW, Garut di Jawa Barat 10 MW, dan Timor Tengah Selatan 20 MW serta Bantul 50 MW.

Agung melanjutkan ketertarikan para investor swasta menggarap potensi angin sebagai ladang bisnis EBT menandakan semakin kompetitifnya usaha EBT di Indonesia. “Peningkatan tata kelola seperti penyesuian regulasi memudahkan investor menamkan sahamnya di sektor EBT. Kami percaya kondisi ini memudahkan kami menggenjot target bauran energi 23% yang berasal dari EBT pada 2025 mendatang,” lanjut Agung.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Dirjen Gatrik) Kementerian ESDM Andy Noorsaman Sommeng menyampaikan bahwa proyek pembangkit EBT akan terus digenjot. Meskipun beberapa proyek pembangkit lain mengalami pergeseran waktu atau penundaan.

“Sekarang (proyek pembangkit) ditunda ada yang ditunda 2021 sampai 2026. Jadi digeser sesuai kebutuhan, tapi bukan dibatalkan. Kalau EBT tidak akan ada penundaan, ga boleh korbankan EBT,” tambah Andy N. Sommeng. (herry heryanto/ESDM)

Article Bottom AD