Ini Kesulitan Mengembangkan Super Grid di Indonesia

0
127
Akademisi ITB Pekik Argo Dahono saat memaparkan materi soal super grid di Indonesia. (sumber: priskop.com)
Jakarta – Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai super grid atau yang dikenal dengan tol listrik di Jakarta, Kamis (1/3/2018). Hal tersebut sengaja dibahas, pasalnya Indonesia dianggap masih tertinggal dalam pengembangan jaringan super grid.
Hal tersebut diungkapkan Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Pekik Argo Dahono. Menurutnya, saat ini negara-negara di dunia tengah mencanangkan super grid dalam rangka mengembangkan renewable energy.
“Pembangunan besar-besaran ada di Cina untuk mengembangkan renewable energy. Di Cina saat ini sedang mengembangkan PLTA kapasitas besar,” ujar Pekik saat memberikan paparannya, Kamis (1/3/2018).
Dalam paparannya, Pekik juga menjelaskan masalah-masalah pengembangan super grid di Indonesia terkendala dengan beberapa hal, seperti rasio elektrifikasi di Indonesia. Pasalnya, rasio elektrifikasi di negara maju sekalipun sulit untuk menjamin hingga 100 persen.
“Masalah rasio elektrifikasi yang rendah terutama Indonesia Timur. Secara politis, inginnya 100 persen, tapi apakah harus 100 persen? Di negara maju pun tidak menjamin100 persen. Terlebih pulau kita banyak. Kalau kita harus meilstriki semua pulau uangnya ga cukup,” papar Pekik.
Saat ini, pemerintah menargetkan 23 persen penggunaan EBT pada 2025 dan 31 persen pada 2050.
“Di negara lain sudah  mencanangkan 100 persen green. Banyak perusahaan di dunia mencanangkan 100 persen green. Kenapa Indonesia tidak ambisius pada 2050 tidak 100 persen? Paling tidak punya mimpi, kalau tidak punya mimpi bagaimana mau melaksanakannya,” ungkap Pekik.
Selain itu masalah yang masih membayangi dalam pengembangan smart grid adalah system Centralized, pembangkitanya besar sementara konsumennya pasif. Terlebih dengan adanya monopol dari PLN.
Tak hanya itu, Isolated system di Indonesia juga masih menghambat untuk pengembangan super grid. Policy satu harga, Resources Batubara dan potensi panas bumi yang tidak merata juga menjadi penyebab perlunya pengembangan super grid di Indonesia.
Resources batubara, adanya di Sumatra dan Kalimantan. Batubara sekarang kualitasnya kurang bagus, Panas bumi juga disitribusinya tidak merata,” ujar Pekik. (Nan)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY