Ir. Djiteng Marsudi Dari Hobi Mengajar, Sistem Jaringan Sampai “Listrik Negara”

Ramah dan Akrab: dengan akrab dan bersahabat Ir. Djiteng Marsudi memberikan penjelasan seputar urban farming yang mulai beliau kembangkan di halaman kantor PT. Lisna Abdi Prima. (dok.priskop.com)
Article Inline AD

 

Kali ini tim priskop.com mempunyai kesempatan menggali banyak informasi seputar pengalaman dari pelaku sejarah era Orde Baru. Dimana kala itu PT. PLN mengalami banyak perubahan, diawali tahun 1993 sampai dengan detik-detik berakhirnya Orde Baru 1998. Ir. Djiteng Marsudi dengan lugas dan renyah menceritakan dan berbagi pengalaman dengan berurutan. Berikut ulasan seputar perjalanan karir beliau selama 36 tahun bekerja pada institusi yang mengatur energi kelistrikan negara tersebut.

Lokasi tempat dari narasumber berjarak sekitar 14 kilometer dari titik kumpul kami. Jarak yang kami tempuh sekitar 30 menit dari waktu awal kita bertolak.

Sampai di sekitaran lokasi narasumber, kami menghubungi asisten dari narasumber untuk memastikan lokasi tempat kami akan menggali banyak informasi yang akan kami persiapkan untuk disajikan pada edisi bulan Oktober mendatang. Dengan antusias asisten dari narasumber kami memberikan arahan dan sudah menunggu di depan pintu pagar berwarna hitam. Rupanya kami telah melewati bangunan tersebut, akan tetapi terlewat karena kami tidak memperhatikan bangunan kantor yang terletak di pojok dari perempatan Jalan Curugan, Beji-Depok.

Asri : Halaman kantor PT. Lisna Abdi Prima tampak hijau dan asri dengan banyaknyasayuran dengan sistem penanaman urban farming. (dok. Priskop.com)

Kami segera bergegas masuk bangunan kantor yang mempunyai pekarangan yang luas dan dipenuhi oleh berbagai macam tanaman dengan sistem penanaman urban farming. Urban Farming adalah teknik menanam dengan memanfaatkan ruang yang sempit. Dengan menggunakan gabungan pipa PVC berukuran besar sebagai medianya, sehingga pipa tersebut dibentuk bertingkat dan diberikan lubang dengan jarak sekitar 5 cm antar tanaman.

Sekilas kantor tersebut seperti kantor yang bergerak dibidang agro industri, karena banyaknya tanaman dan juga kolam ikan pada halaman depannya, yang menambah keasrian dari kantor tersebut. Nama dari kantor tersebut adalah PT. Lisna Abdi Prima sebuah kantor yang bergerak dibidang kontraktor kelistrikan. Lisna sendiri adalah kepanjangan dari Listrik Negara.

Setibanya di kantor, kami dipersilahkan menunggu di ruang tamu untuk beberapa saat. selanjutnya kami diajak menuju ruang wawancara. Ruang yang cukup lapang, di sana telah duduk narasumber kami, beliau menyambut kami dengan kehangatan dan keramahannya. Pria berusia 80 tahun ini bernama Djiteng Marsudi beliau adalah mantan direktur PLN pada era soeharto di tahun 1993 sampai dengan tahun 1998.

Dengan senyum yang khas, beliau menyapa dan mempersilahkan kami untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan diperlukan untuk sesi wawancara tersebut.

Beliau mulai menceritakan satu demi satu untaian jawaban dari pertanyaan yang kami lontarkan dengan jelas, berurutan dan antusias. Beliau mulai bercerita seputar sejarah bangsa ini dan pengalaman beliau mengunsi pada peristiwa 10 Nopember 1945, pada usianya 10 tahun waktu itu.

“Waktu itu saya masih ingat saya ikut dalam peristiwa 10 Nopember di Surabaya. Pada waktu itu usia saya 10 tahun. Saya sampai harus pindah-pindah sekolah sampai 10 kali karena harus mengungsi. Saya ingat betul itu” Ujar pria kelahiran Malang Jawa Timur ini.

Dengan gamblang dan berurutan beliau juga menceritakan pengalaman beliau ketika menjadi dirut PLN dan juga banyak menceritakan pengalaman beliau seputar pembentukan jaringan (grid) untuk pulau Jawa. Menurut beliau jaringan kelistrikan di pulau Jawa masih belum terintegrasi, dan tidak terkoneksi.

Beliau mempunyai gagasan untuk membuat satu jaringan yang terkoneksi di pulau Jawa, dengan adanya interkoneksi jaringan di pulau Jawa keputusan dan kebijakan pembagian energi pada pulau jawa diatur oleh satu komando yaitu oleh satu GM (General Manager) dan bukan lagi atas wewenang dari manager per wilayah yang pada saat itu masih merupakan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu pada tahun 1983 beliau adalah GM pertama yang mengoperasikan sistem 500Kv di pulau Jawa.

“Ada momen yang merupakan momen bersejarah bagi saya, selain saya orang pertama yang membentuk sistem jaringan di pulau Jawa, saya juga merupakan GM pertama yang mengoperasikan sistem 500Kv di pulau Jawa”. Ungkap Djiteng dengan senyuman dan mimik mengingat peristiwa masa lalu.

Sehingga tidak terlalu berlebihan jika beliau dikatakan sebagai pendiri atau pencetus pengembangan jaringan di Pulau Jawa. Melihat dari latar belakang dan kecintaannya terhadap ilmu grid (jaringan) sehingga beliau sangat paham benar akan ilmu jaringan.

Pria yang sangat mencintai mengajar ini menyampaikan bahwa mengajar adalah hobinya dan sudah dimulai sejak tahun 1965 dan pada tahun 1968 beliau dipindahkan ke Sumatera yang membuat beliau tidak bisa mengajar sampai tahun 1984. Baru setelah tahun 1984 beliau mulai mengajar kembali sampai 2016 lalu. Beliau mengaku mengajar merupakan hal yang sangat dicintainya.

Djiteng juga berbagi cerita seputar bagaimana beliau mempunyai waktu kerja yang cukup padat. Waktu kerja 70 jam dalam seminggu, hal ini dikarenakan tantangan dan lingkup kerja yang selalu ditanganinya mempunyai bobot yang cukup berat, dan beliau benar-benar menggunakan waktu yang dimiliki untuk mengemban tanggung jawab itu.

Djiteng menyampaikan bagaimana waktu keluarga yang dihabiskan setiap hari Minggu diatas pukul 12 siang sampai malam. Hanya sekitar 10 jam dalam seminggu. Waktu yang secara kualitas beliau pergunakan benar-benar untuk keluarga. Beliau biasa mengisi waktu luang itu dengan makan bersama atau juga berjalan2 dengan keluarga tercintanya.

Sebagai mantan Dirut PLN Djiteng juga memberikan pesan kepada pembaca. Pesan untuk menjadi seorang pemimpin, ada 5 kriteria yang harus dimiliki seseorang apabila menjadi seorang pemimpin.

Beliau menyampaikan bahwa seorang pemimpin haruslah pemimpin yang berketuhanan. Jadi, seorang pemimpin haruslah orang yang percaya kepada tuhan YME, karena itu dia harus mempunyai iman yang cukup.

Kedua pemimpin haruslah sadar bahwa dia harus bertanggung jawab kepada Tuhan selain kepada institusi/organisasi yang dia emban.

Ketiga pemimpin haruslah berpihak kepada kepentingan orang banyak, pemimpin tidak bisa mencari keuntungan sendiri atau golongannya.

Keempat pemimpin harus bisa menjadi suri tauladan bagi anggotanya. Selanjutnya beliau menyampaikan pemimpin harus mampu bertanggung jawab dan berada di depan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Seorang pemimpin harus mempunyai rasa ketuhanan, yang kedua pemimpin harus percaya bahwa kekuasaan yang diemban harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan selain kepada institusi. Ketiga pemimpin harus memihak kepada banyak orang bukan untuk kepentingannya sendiri. Keempat pemimpin harus menjadi teladan dan mengayomi bagi anak buahnya. Dan yang paling akhir, kelima pemimpin dalam kondisi kritis harus berani pasang badan”, Ungkap pria yang terinspirasi oleh Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher.

Beliau juga mempunyai pengalaman menarik dan menginspirasi ketika diundang oleh pemerintah Inggris di London pada Tahun 1994 dan dilatih selama satu minggu dikantor Perdana Menteri Inggris. Beliau dilatih seputar ilmu pengaturan privatisasi. Dari situ beliau mulai mengerti pemikiran dari Margaret Thatcher seputar privatisasi. Bagaimana sebuah negara harus dapat menyediakan listrik dan bagaimana mengikutsertakan pihak swasta dalam ketersediaan listrik, dan negara harus menyediakan mekanisme untuk mengatur pihak swasta tersebut.

Sebagai penutup dari akhir sesi wawancara kami, Djiteng yang pernah menempuh Pendidikan kelistrikan di Inggris ini memberikan sedikit wejangan bagi kami sebagai generasi muda agar senantiasa menjaga profesionalisme dalam bekerja.

Tepat pukul 3.15 Sore waktu itu kami menyelesaikan wawancara kami dan berpamitan dengan beliau selaku komisaris utama PT. Lisna Abdi Prima dan beberapa staf beliau yang juga ikut serta menemani jalannya wawancara. Kehangatan yang muncul dari semua jajaran staf dan beliau sendiri tetap mengiringi kami sampai kami meninggalkan lokasi. Banyak hal yang dapat dibagi dan banyak hal yang dapat kita ambil dari pengalaman Djiteng Marsudi pria lulusan Teknik Elektro ITB tahun 1962 dan sekaligus mantan Direktur Utama PT. PLN periode 1979 sampai dengan 1998.

Article Bottom AD

LEAVE A REPLY