Ir. Mohamad Mochtar Wirjosaputro Lebih Menyukai “Kereta Listrik” Daripada Mobil Listrik

Griya Purna LISNAS CIBENTANG: M. Mochtar Bersama istri tercinta Munarin Moejoso berfoto di depan kediamannya yang ada di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur. (dok.priskop.com)
Article Inline AD

 

Memasuki masa pensiun tidak membuat pria yang lahir di Cilacap tahun 1933 ini berhenti berkarya dan menekuni hobinya. Justru memasuki masa pensiun membuatnya mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dahulu pada masa aktif bekerja tidak bisa dilakukannya.

Mohammad Mochtar Wirjosaputro begitu nama lengkapnya, beliau adalah mantan Direktur Pengusahaan pada Direktorat Jenderal Listrik dan Energi Baru pada tahun 1988. Memasuki masa pensiun membuat beliau tidak terhenti untuk menghasilkan karya dan semakin membuat beliau sibuk dengan hobinya.

Salah satu karyanya adalah buku memoar seputar keluarga dan karir sepanjang masa aktif bekerja. Waktu yang dahulu tidak pernah didapatkannya karena kesibukannya sebagai direksi. Pada masa pensiun beliau mendapatkan waktu yang lebih banyak dan menggunakan waktu itu mengembangkan dan menyalurkan hobi yang sudah lama dia simpan.

Kereta api adalah moda transportasi yang menjadi idolanya sejak kecil, tak heran beliau menyalurkan hobi yang digandrunginya sejak kecil itu dengan mengumpulkan kereta api listrik mainan.

Mochtar menyampaikan bahwa untuk menyalurkan hobinya beliau telah mempersiapkan sebuah maket yang khusus dipesannya dan mengumpulkan kereta-kereta listrik untuk dapat melaju di dalam rel kereta api buatannya. Terdapat 14 rangkaian kereta api yang melintas pada rel kereta api buatannya. Untuk model kereta api, beliau lebih menyukai kereta model dengan tipe lokomotif klasik. Lokomotif yang masih menggunakan pemanas dan menghasilkan uap sebagai energi penggeraknya. Layaknya seorang pengatur perjalanan kereta api beliau dapat mengontrol semua jalur dalam sebuah kontrol yang dipusatkan dan terhubung dengan switch data sentral.

Berjalannya dengan waktu dan semakin bertambahnya usia serta kondisi fisik kesehatan yang terkadang menjadi kendala, beliau merasa kesulitan untuk terus dapat merawat dan mengoperasikan semua peralatan perkereta apian miliknya. Saat ini banyak dari kereta api yang dia miliki terbengkalai dan jarang sekali untuk dijalankan.

“Dahulu saya sering menjalankannya sendiri, tapi karena faktor usia dan juga kesehatan sehingga saya sudah gak pernah lagi menjalankannya. Hanya suka lihat di videonya saja.” Ungkap Mochtar pria yang mendapatkan gelar insinyurnya di University of Manitoba, Canada pada tahun 1959 ini.

Semasa bertugas di Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah banyak pengalaman dan proyek-proyek listrik yang beliau tangani. Salah satunya adalah proyek PLN Tanjung Priok 1 dan 2 pada tahun 1966 di Surabaya. Proyek inilah yang membawanya pindah ke Jawa Timur selama kurang lebih 4 tahun dan sekaligus mempertemukan beliau dengan sang istri tercinta. Di kota pahlawan inilah beliau mulai bertemu dan merajut kisah romantis sampai akhirnya menuju ke pelaminan. Tepatnya tanggal 15 bulan Nopember 1963 beliau melepas masa lajangnya dan memperistri Munarin Moejoso yang merupakan anak ke empat dari keluarga Moejoso.

Hal yang menarik dari pertemuannya dengan istri tercinta adalah ketidak sengajaannya bahwa istrinya dahulu adalah bayi yang pernah ditolong oleh Paman beliau.

“Takdir Tuhan memang rahasia”, begitulah ungkapan beliau yang ditulis dalam buku memoar dengan judul “Nrimo ing Pandum”.

“Allah Maha Tahu, Allah Maha Kuasa, jabang bayi yang lahir ditolong oleh kakak sulung ibu saya ternyata 24 tahun kemudian akan menjadi menantu ibu saya” begitulah kutipan dari tulisan Mochtar dalam buku memoarnya yang dicetak dan diterbitkan pada tahun 2014 lalu.

Setelah selesai dengan proyek PLN Tanjung Priok 1 dan 2 tahun 1966 beliau dipindahkan kembali ke Jakarta dan beberapa tahun berikutnya tepatnya tahun 1973 beliau didapuk menjabat sebagai Direktur Muda pada Perusahaan Listrik Negera tersebut. Tidak terhenti di sini karir beliau semakin menanjak dan kiprahnya juga semakin diperhitungkan.

Pada tahun 1986 beliau dipercaya menjabat sebagai Direktur Administrasi, jabatan ini pulalah yang membuat beliau membuahkan beberapa hasil seperti mendirikan Pusat Pelayanan Enjinering (PPE) serta mengintrodusir tentang perlunya PLN memiliki lembaga dana pensiun pegawai. Beberapa hal diatas adalah buah karya beliau semasa menjabat Direktur Administrasi.

Pada tahun 1989 beliau diberi tanggung jawab untuk menjadi Direktur Pembinaan Pengusahaan pada Direktorat Jenderal Kelistrikan dan Energi Baru. Rupanya pengalaman ini membawa nuansa yang sedikit berbeda bagi beliau, mengingat jabatan yang beliau emban adalah jabatan pada sebuah instansi pemerintahan.

Namun hal ini tidak membuat beliau menjadi patah arang, dengan tanggung jawab yang dipikulnya didukung dengan pengalamannya selama berkarir di perusahaan listrik milik negara mendorong beliau membuahkan sebuah kebijakan-kebijakan yang sudah seharusnya menguntungkan kedua belah pihak yaitu antara PLN dan mitranya.

Sehubungan dengan hal ini beliau mengeluarkan kebijakan seputar ketentuan yang mengharuskan PLN membeli listrik dari pembangkit-pembangkit kecil berdaya 500 KW sampai dengan 1 MW yang berasal dari pembangkit PLTA atau PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro).

Beliau juga sempat menggagas ide “Energi Setempat”, ide tersebut adalah ide seputar pemberdayaan pihak swasta dalam pengadaan pembangkit PLTMH dengan harapan mengurangi resiko dan biaya yang cukup besar. Ide ini digagas terutama untuk pemenuhan kebutuhan listrik pada daerah-daerah terpencil. Rupanya keterlibatan beliau terhadap industri kelistrikan semakin menapak pada kematangan, terbukti dengan dilibatkannya beliau dalam salah satu tim yang berhasil mengeluarkan peraturan tentang Automatic Tariff Adjustment Mechanism.

Kebijakan tarif ini secara prinsip hampir sama dengan kebijakan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) hanya saja mekanisme penyesuaian tarif secara otomatis jumlah sangat kecil sekali sehingga tidak begitu berimbas pada masyarakat. Dan secara birokrasi kenaikan tarif secara otomatis juga disetujui oleh DPR hanya sekali saja yaitu ambang batas kenaikannya. Berbeda dengan kenaikan TDL yang harus mendapat persetujuan setiap kali akan mengalami kenaikan, karena jumlah nominalnya yang pasti lebih banyak dan signifikan.

Banyak orang yang menjadi resah dengan masa pensiun, karena membayangkan perubahan yang begitu drastis. Dari kesibukan yang semula menjadi aktivitas sehari-hari akan hilang tatkala masa pensiun tiba. Berbeda dengan apa yang dialami oleh Mochtar, ketika mendekati masa pensiun Mochtar justru mengemban kepercayaan dari perusahaan listrik yang membesarkan karirnya.

Mochtar dipercaya sebagai Direktur Pemasaran pada perusahaan asuransi milik PLN yaitu PT. Asuransi Umum Tugu Kresna Pratama. Perusahaan asuransi hasil patungan dari PLN dan Pertamina. Perusahaan asuransi yang mengelola dana asuransi aset dari kedua BUMN tersebut.

Hingga sekarang, beliau ditemani istri tercinta tinggal di kediamannya yang asri di daerah Jakarta Timur, rumah yang beliau beri nama Griya Purna LISNAS CIBENTANG merupakan tempat dimana beliau menghabiskan masa tua. Terpampang papan nama yang bertuliskan Griya Purna Lisnas Cibentang pada tembok depan halaman rumah beliau.

LISNAS CIBENTANG sendiri mempunyai singkatan Listrik Nasional dan Asuransi sedangkan CIBENTANG adalah singkatan dari Cibubur, Bekasi dan Ketintang. Ketiga daerah tersebut adalah tempat di mana beliau memiliki kenangan dan makna semasa karirnya.

 


Written by: Ris                                                                                                               Edited by: Y&S

Article Bottom AD