Kuntoro Mangkusubroto: ICEF Berkomitmen Untuk Buat Perubahan di Sektor Energi

Kuntoro Mangkusubroto dalam acara peluncuran Indonesia Clean Energy Forum (ICEF), di Pullman Hotel, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018). Fpto: Nur Cahyono/priskop.com
Article Inline AD

 

Jakarta,- Ketua Dewan Penasehat Indonesia Clean Energy Forum (ICEF), Kuntoro Mangkusubroto mengatakan, ICEF merupakan wadah bertukar gagasan dan pemikiran inovatif untuk mendorong transformasi menuju sistem energi yang rendah karbon. ICEF terdiri dari 25 individu dari berbagai latar belakang yang memiliki jaringan dan pengaruh serta komitmen untuk membuat perubahan di sektor energi.

“ICEF merupakan wadah untuk berbagi dan bertukar gagasan yang objektif dan inovatif mengenai tranformasi di sektor ketenagalistrikan. Profil anggota ICEF yang unik dan beragam dapat membantu untuk menyampaikan pesan kepada pemangku kepentingan yang lebih luas,” kata Kuntoro, di Pullman Hotel, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018).

Menurut Kuntoro, perubahan yang cepat terjadi di sektor energi dalam bentuk dekarbonisasi, digitalisasi dan desentralisasi pembangkit, serta demokratisasi penyediaan listrik (di mana konsumen sekaligus menjadi produsen atau disebut prosumer), menciptakan ancaman sekaligus peluang bagi sektor energi, khususnya sektor kelistrikan di Indonesia.

Menurutnya, penyediaan listrik yang masih bertumpu pada bahan bakar fosil (batubara, minyak dan gas alam) saat ini, dan kecenderungan untuk memperbesar porsi pembangkit batubara di masa depan, meningkatkan risiko finansial dari stranded asset dari aset-aset pembangkit dan tambang di masa yang tidak terlalu jauh.

“Risiko-risiko tersebut diperkuat dengan adanya sejumlah kecenderungan seperti harga teknologi energi terbarukan semakin murah dan kompetitif, tingkat efisiensi perangkat listrik yang semakin tinggi, dan tekanan internasional yang semakin kuat untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, khususnya dari sektor energi, untuk mencapai target Paris Agreement,” ujar Kuntoro.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, Indonesia bisa melakukan transformasi energi menuju energi bersih secara berkeadilan. Hal itu membutuhkan kajian dan persiapan yang serius serta komitmen politik dari berbagai pemangku kepentingan. Transformasi energi  membutuhkan investasi yang besar untuk energi terbarukan, jaringan dan penyimpan dalam satu dekade mendatang.

Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam acara peluncuran Indonesia Clean Energy Forum (ICEF), di Pullman Hotel, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018).

Di sisi lain, lanjut Fabby, perlu ada rasionalisasi terhadap rencana pembangunan PLTU batubara dan kontrak-kontrak batubara. Studi yang dilakukan Carbon Tracker (2018) menunjukkan bahwa investasi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan harga listriknya akan lebih murah dibandingkan dengan membangun PLTU baru pada 2027/2028.

Menurut Fabby, melalui interaksi dan dialog yang inovatif, ICEF dimaksudkan untuk menajdi katalis proses transformasi tersebut, dan sekaligus membantu mempeerkuat komitmen politik pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

“Arah kebijakan energi dan kelistrikan Indonesia hari ini bertolak belakang dengan trend global. Kondisi ini akan meningkatkan risiko-risiko finansial bagi asset PLN dan IPP seiring dengan semakin kompetitifnya harga energi terbarukan. Harga listrik dari Solar PV  dan Battery Strorage  akan lebih murah dibandingkan dengan listrik dari jaringan (grid) pada pertengahan dekade mendatang. Pemerintah dan perusahaan listrik perlu menyadari ancaman ini dan mulai melakukan transformasi bisnisnya,” kata Fabby.

Seperti diketahui, ICEF resmi diluncurkan di Jakarta, Kamis (15/11/2018). ICEF dipimpin oleh Kuntoro Mangkusubroto. Dialog dan interaksi di ICEF diharapkan dapat menghasilkan analisis yang tajam dan dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk mendorong pengembangan energi terbarukan, dalam rangka mencapai target Kebijakan Energi Nasional (KEN) / Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), sebesar 23% di 2025 dana 25% di 2030.

(Nur Cahyono)

Article Bottom AD