Lampu LED Import VS LED Lokal

Lampu dengan teknologi diode perlahan akan segera menggeser teknologi bola lampu dan lampu fluorescent (lampu neon). Teknologi lampu dengan teknologi emitted diode telah terbukti memberikan efek terhadap efisiensi dengan rendahnya asupan energi untuk lampu. Hemat dan terang dua kata sifat itulah yang cocok disematkan untuk teknologi lampu LED.
Teknologi lampu LED sendiri adalah perkembangan dari teknologi semi konduktor, dalam dunia elektronika  lampu LED sendiri biasa digunakan sebagai lampu indikator dalam sebuah rangkaian elektronika. Seiring dengan perkembangan teknologi, Light Emited Diode (LED) dikembangkan ke dalam skala yang lebih besar. Dikarenakan sifatnya yang rendah akan kebutuhan energi untuk menyalakannya, energi dari lampu LED ini adalah arus searah atau DC yang menggunakan tenaga baterai. Perkembangan teknologi yang pesat membawa perkembangan kepada teknologi ini sehingga mampu menggeser teknologi terdahulunya yaitu teknologi bola lampu pijar dan lampu fluorescent.
Ilustrasi gambar lampu LED.
Dibalik manfaat dari lampu LED, ternyata industri lampu ini mempunyai beberapa problematika. Problematika seputar persaingan produk lokal dan produk import yang mulai masuk dan dijual di Indonesia. Kondisi yang ironis memang, produsen lokal harus bersaing dengan produsen yang memproduksi komponen untuk suplai buatan dalam negeri.
Melalui Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 65/M-IND/PER/7/2016 yang mengatur sekaligus menentukan tingkat komponen dalam negeri yang harus dipenuhi oleh prosdusen atau investor asing, diharapkan dapat memproteksi industri dalam negeri.
Seperti yang dikutip di laman resmi kementerian perindustrian bahwa pengertian Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) tidak hanya didasarkan pada komposisi elemen atau harga yang membentuk suatu produk, melainkan juga dilihat dari faktor biaya tenaga kerja, persentase kepemilikan asing, dan masih banyak lagi.
Sebagai contoh, pada produk komputer merk A, yang diproduksi di dalam negeri hanya casing dan power supply-nya. Jika dilihat dari komposisi harga, kedua elemen tsb bernilai 10% dari total harga. Angka 10% tersebut tidak bisa serta-merta dianggap sebagai nilai TKDN. Paling tidak Permen ini telah mencoba memberikan batasan dan mencoba untuk menumbuhkan pertumbuhan industry dalam negeri.

Serbuan Produk Negara Produsen Komponen LED

Baru-baru ini telah digelar pameran International seputar teknologi energi hijau atau energi baru terbarukan. Dalam pameran ini tidak hanya produsen dari dalam negeri melainkan juga peserta dari luar negeri. Hal yang menarik dari pemeran ini adalah munculnya produk lampu LED yang berasal dari China dan India.
Produsen otomotif dari India sudah memulai membuka peluang pasarnya di Indonesia dengan mengikuti pameran ini. Bajaj yang semula kita kenal dengan produk motornya mencoba memperkenalkan produk lampu LED miliknya di Indonesia dan mencoba mencari kemitraan untuk pendistribusian di pasar Indonesia.
China merupakan salah satu negara yang mendominasi pasar produk lampu LED di pameran ini. Bahkan bisa dikatakan sebagian besar komponen yang diproduksi oleh pabrikan Indonesia berasal dari negeri panda tersebut. Bukan tidak heran apabila China mencoba untuk membuka peluang pasar di Indonesia.
Teknologi LED membuat bentuk lampu tidak hanya bulat seperti bola lampu melainkan juga berbentuk panjang.
Bisa kita bayangkan bagaimana dari sisi harga, produsen lampu pijar diode ini mempunyai daya saing yang tinggi. Mereka adalah produsen dari komponen inti dari sebuah lampu LED. Sedangkan Indonesia masih menjadi negara yang melakukan import untuk komponen utama dari lampu LED. Produsen dalam negeri pun mulai resah tatkala produk dari negara produsen komponen juga mulai masuk ke Indonesia.

Berharap Dari TKDN

Perlindungan pemerintah terhadap industri dalam negeri tertuang dalam peraturan menteri perindustrian Nomor : 16/M-IND/PER/2/2011 tentang ketentuan dan tata cara penghitungan tingkat komponen dalam negeri. Pada BAB II disebutkan dan dijelaskan Tingkat Komponen Dalam Negeri Barang yang tertuang dalam Pasal 2 Ayat 6 yang menjelaskan point dari persentase tingkat komponen dalam negeri. Berikut ini kutipan dari Permen tersebut.
(6) Penentuan komponen dalam negeri untuk alat kerja/fasilitas kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b, dengan ketentuan:
  1. alat kerja yang diproduksi di dalam negeri dan dimiliki oleh penyedia barang/jasa dalam negeri, dinilai 100% (seratus persen) komponen dalam negeri;
  2. alat kerja yang diproduksi di dalam negeri dan dimiliki oleh penyedia barang/jasa luar negeri, dinilai 75% (tujuh puluh lima persen) komponen dalam negeri;
  3. alat kerja yang diproduksi dalam negeri dan dimiliki oleh penyedia barang/jasa kerjasama antara perusahaan dalam negeri dan perusahaan luar negeri, dinilai komponen dalam negeri 75% (tujuh puluh lima persen), ditambah dengan 25% (dua puluh lima persen) proporsional terhadap komposisi (perbandingan) saham perusahaan dalam negeri;
  4. alat kerja yang diproduksi di luar negeri dan dimiliki oleh penyedia barang/jasa dalam negeri, dinilai 75% (tujuh puluh lima persen) komponen dalam negeri;
  5. alat kerja yang diproduksi luar negeri dan dimiliki oleh penyedia barang/jasa luar negeri negeri, dinilai 0% (nol persen) komponen dalam negeri; dan
  6. alat kerja yang diproduksi luar negeri dan dimiliki oleh penyedia barang/jasa kerjasama antara perusahaan dalam negeri dan perusahaan luar negeri, dinilai komponen dalam negerinya secara proporsional terhadap komposisi (perbandingan) saham perusahaan dalam negeri.
Dalam pasal diatas jelas disebutkan bagaimana pemerintah mengatur dan membuat kerangka perhitungan apa yang disebut dengan komponen dalam negeri. Diharapkan peraturan ini dapat memberikan manfaat dan sekaligus menjaga mutualisme Industri dalam negeri dan iklim investasi asing.

Organisasi Perusahaan Lampu Dalam Negeri

Menyikapi hal ini produsen lampu berkumpul untuk mencoba menanggulangi kegelisahan yang muncul dari produsen lampu di Indonesia. Pada tahun 2013 organisasi yang bertujuan untuk menjaga kemandirian perusahaan manufaktur lampu di Indonesia ini juga menempatkan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan regulasi. Selain itu organisasi nirlaba yang diprakarsai oleh tiga perusahaan lampu ini akan menjadi mitra yang aktif dalam mengevaluasi sekaligus mengusulkan hal yang sesuai dengan kondisi industri dalam negeri.
Organisasi yang diberi nama Gamatrindo (Gabungan Industri Manufaktur Lampu Terpadu Indonesia). Pengusaha produsen mencoba untuk menaungi anggotanya agar dapat memberikan peluang yang sama dan dapat bersaing dengan negara lain di era keterbukaan dewasa ini. Organisasi yang diprakarsai oleh tiga perusahan manukfaktur lampu yaitu PT. Lighting Solution, PT. Panca Aditya Sejahtera dan PT. Hikari berkembang dan menjadi salah satu organisasi nirlaba yang mencoba untuk menjadi penyeimbang sekaligus melindungi Industri lampu di dalam negeri.
Bagan anggota-anggota Gamatrindo.
Belajar dari beberapa negara yang telah lama mengembangkan teknologi ini lebih awal dapat dijadikan referensi bagi Indonesia. Negeri seperti Jepang telah terlebih dahulu memasukkan perkembangan teknologi untuk lampu LED pada tataran kebijakan pemerintahannya untuk mendukung penggunaan secara masal sekaligus mendorong tingkat industrinya. Selanjutnya bagaimana langkah negara-negara seperti Jepang, India dan Malaysia untuk mendorong industri lampu LED sehingga menjadi lampu yang tidak hanya menjadi konsumsi dalam negeri tapi juga menjadi produk eksport. Simak edisi selanjutnya “Aksi Tiga Negara Mendorong Industri Lampu LED di Negaranya”. (Ris)
Article Bottom AD