LIPI Kembangkan Superkonduktor Hemat Listrik dan Ramah Lingkungan

Kawat Superkonduktor yang dikembangkan oleh Agung Imaduddin, Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI. Foto: Wulfram/Priskop
Article Inline AD

 

Jakarta,- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengembangkan kawat superkonduktor yang dapat mengurangi energy  losses dan ramah lingkungan.

“Kawat superkonduktor ini hambatannya nol dan pendinginnya menggunakan nitrogen, sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan”, kata Agung Imaduddin, di Gedung Widya Sarwono LIPI Jakarta, Jumat kemarin (26/10/2018).

Agung menjelaskan bahwa kawat superkonduktor biasa digunakan pada bidang penghantar dan penyimpanan energi listrik, transformator dan motor listrik serta alat kesehatan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

“Bahkan pada aplikasi alat kesehatan MRI, komponennya 60% berasal dari superkonduktor, energy losses dapat dikurangi sehingga lebih efisien,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI itu.

Bahan superkonduktor, lanjut Agung, dapat mengalirkan listrik tanpa ada hambatan, sehingga dapat juga digunakan dalam jaringan listrik.  Penggunaan superkonduktor ini pada jaringan listrik akan arus listrik mengalir  dengan lancar, serta tidak ada energi listrik yang hilang. Rahasianya ada pada komposisi bahan bakunya. Saat ini, yang banyak dikembangkan jenis High Temperature Superconductor (HTS).

Dalam paparannya, Agung menjelaskan bahan baku HTS yang banyak dimiliki Indonesia adalah jenis Bi-Sr-Ca-Cu-O atau disebut BSCCO. Dan terhitung sejak tahun 2006, LIPI telah melakukan penelitian  mengenai superkonduktor. Hasilnya berupa prototype kawat superkonduktor.

Agung Imaduddin (kanan), di Gedung Widya Sarwono LIPI Jakarta, Jumat kemarin (26/10/2018). Foto: Agus/Priskop

Agung menjelaskan, penggunaan superkonduktor dalam jaringan listrik diyakini mampu menghemat anggaran yang cukup besar. Jika menggunakan superkonduktor ini akan ada penghematan sampai Rp.8,5 miliar/km/ tahun. Meskipun perlu penyesuaian jika ingin dipasang pada jaringan listrik eksisting PLN yang ada saat ini, namun penelitian ini akan bisa berkontribusi bagi industri kelistrikan.

Agung berharap, ke depannya penelitian ini dapat dikembangkan menjadi pilot project. Sehingga pada tahap selanjutnya dapat direalisasikan dalam skala industri. Hal ini penting dilakukan, mengingat kebutuhan listrik kita yang terus meningkat setiap tahun, seiring pertambahan penduduk.

Penulis: Wulfram.

Article Bottom AD