Malaysia Jadikan China ‘Kiblat’ Energi Terbarukan

0
18
Kuala Lumpur – Menteri Energi, Teknologi, Ilmu Pengetahuan, Perubahan Iklim, dan Lingkungan Malaysia, Yeo Bee Yin, mengatakan bahwa Malaysia dapat belajar banyak dari China untuk urusan energi terbarukan, terutama tentang teknologinya.
Seperti dikutip dari situs berita Xinhua.com, Menteri Yeo mengatakan hal tersebut dalam kesempatannya  berpidato dalam Forum Kerjasama Selatan-Selatan Era Asia Baru di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa waktu lalu, yang dihadiri para sarjana Universitas Peking China.
Mengutip langkah besar China dalam pembayaran teknologi, dari sebuah negara yang masyarakatnya hanya menggunakan uang tunai langsung hingga beralih kepada penggunaan non uang tunai, China telah banyak berubah untuk hal teknologi.
“China akan memimpin dalam beberapa hal dalam teknologi di masa mendatang,” kata Yeo, yang juga menyoroti transformasi China dalam kecerdasan akan inovasi energi terbarukan.
Dia mengatakan Malaysia juga menantikan investasi China ke negara Jiran tersebut, tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga tentang teknologi yang dapat menciptakan pekerjaan berketerampilan tinggi, menghasilkan sumber daya yang mumpuni, dan juga dapat membantu Malaysia untuk mengembangkan keterampilannya di energi terbarukan. Saat ini, Malaysia memang belum terlihat ‘bersemangat’ dalam industri energi bersih terbarukan.
Yeo juga mencatat bahwa Malaysia perlu mencontoh optimisme yang tercermin di kalangan anak muda China, untuk mendorong orang-orang agar bekerja lebih keras, menciptakan lebih banyak pekerjaan dan memacu pertumbuhan ekonomi.  Lebih lanjut Menteri Yeo mengusulkan komersialisasi teknologi antara dua negara, kolaborasi akademi serta investasi bersama untuk menciptakan hubungan bilateral yang lebih erat.
China memang tak main-main dalam penggarapan pasar energi mereka.  Terukur dari besarnya niali investasi yang dikucurkan sejak tahun 2017 lalu saja, China sudah menggelontorkan tak kurang dari 3 triliun dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 39.900 triliun (kurs Rp 13.300) dalam pembuatan pembangkit listrik selama 25 tahun ke depan.
Dilansir dari Chinadaily.com, Laporan dari Bloomberg New Energy Finance (BNEF) memperkirakan, sekitar 75 persen dari investasi tersebut akan mengalir ke sektor energi terbarukan.  Laporan BNEF mengatakan, investasi di sektor tenaga angin akan mencapai 1 triliun dolar Amerika, dan sektor tenaga surya, serta nuklir masing-masing akan mencapai 700 miliar dolar Amerika. Bahkan antara tahun 2030 hingga 2040, biaya pembuatan pembangkit tenaga angin dan solar akan lebih murah ketimbang pembangunan pabrik batu bara.
Tak hanya Malaysia, Indonesia pun tengah menjajaki kerjasama dengan China,melalui anak perusahaan Perusahaan Listrik negara (PLN) juga telah menandatangani nota kesepahaman tentang rencana pembangunan pembangkit listrik PLTS Terapung 200 MWp yang akan berlokasi di Cirata.  seperti dikutip Detikfinance.com, keuntungan dari proyek ini adalah jumlah energi yang dihasilkan lebih besar 10 persen ketimbang PLTS di darat.  (Liy)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY