Metode Chemical Looping Mampu Hasilkan Batubara Bersih

Ohio – Inovasi di bidang kimia yang satu ini selaras dengan misi energi bersih untuk mengurangi emisi karbon. Bahkan, penelitian ini memungkinkan mereka untuk membakar bahan bakar fosil tanpa memancarkan karbon dioksida. Sebuah teknologi menjanjikan yang sedang dikembangkan di Ohio State University,  mengubah bahan bakar fosil menjadi listrik tanpa memancarkan karbon dioksida ke atmosfer.  Para peneliti menyebutnya dengan istilah “batubara bersih”.
David Kraft, dari Babcock & Wilcox, perusahaan listrik yang bermitra dengan universitas tersebut mengatakan bahwa proses pengaliran kimia langsung batu bara adalah pendekatan paling mutakhir dan hemat biaya terhadap penangkapan karbon yang telah ditinjau hingga saat ini.  Demikian seperti dilansir situs energi, energynews.us.
Chemical Looping Method
Nama metode ini adalah Chemical Looping,  di mana partikel oksida logam melewati reaktor bertekanan tinggi untuk membakar bahan bakar fosil tanpa kehadiran oksigen di dalam prosesnya. Kemudian reaksi melepaskan panas dan menghasilkan uap yang dapat dikirim ke turbin untuk pembangkit listrik.
C02 yang ditangkap dapat digunakan untuk nanofibers atau bahan kimia seperti asam asetat atau metanol.  Hasil lain dari metode ini adalah gas sintesis, atau syngas, yang berfungsi sebagai bahan dasar amonia, plastik, dan serat karbon.
Laboratorium Penelitian Batubara Bersih di Ohio Amerika berhasil menguji proses tersebut untuk pertama kalinya.  Ketika memproduksi panas dari batu bara, berhasil tertangkap sebanyak 99 persen emisi karbon selama durasi 203 jam.  Sejak itu, tim telah bekerja untuk memperpanjang jangka waktu sebelum partikel oksida logam menjadi aus.
Awalnya, partikel akan bertahan 100 siklus, atau delapan hari operasi secara terus menerus. Dalam tes-tes terbarunya, partikel-partikel itu bertahan sekitar 3.000 siklus atau delapan bulan.  Proses ini bekerja dengan batubara, biomassa, dan shale gas, yang telah diubah menjadi metanol dan bensin  dengan menggunakan teknik ini.
Liang-Shih Fan, profesor teknik kimia dalam tim ini mengatakan, “teknologi ini dapat digunakan selama 30 hingga 40 tahun, dan ketika sistem terbarukan siap maka dapat digunakan sebagai penghasil atau pembawa energi utama”.
George Huber, profesor teknik kimia di University of Wisconsin, Amerika, mengatakan metode Chemical Looping  pada akhirnya bisa menjadi komponen kunci dalam transisi regional ke energi yang lebih bersih, terutama ketika terikat dengan bisnis komoditas seperti industri bahan bakar.  “Keuntungannya adalah dapat mengkonversi sumber bahan bakar fosil karena Chemical Looping tidak memiliki proses gasifikasi udara,” kata Huber.
Membersihkan batubara adalah prospek yang menggiurkan karena energi terbarukan terus berkembang.  Satya Chauhan, seorang direktur program senior dari Battelle Research, sebuah organisasi ilmu pengetahuan bersifat nirlaba yang berbasis di Columbus, Amerika, mengungkapkan,  bahwa para ilmuwan telah mempelajari konsep ini selama beberapa dekade dalam upaya untuk memisahkan gas rumah kaca selama proses pembakaran bahan bakar terjadi.
“Kita tidak dapat bergantung 100 persen pada energi bersih terbarukan, tetapi dengan memiliki bahan bakar fosil sebagai opsi yang dapat bebas dari emisi karbon adalah sesuatu yang perlu kita coba dan lakukan,” kata Chauhan.  Meskipun penurunan domestik batubara terjadi, bahan bakar itu masih memegang peranan penting atas 29 persen dari permintaan energi dunia pada tahun 2016 lalu.
Selain itu, laboratorium di Ohio State University tengah bermitra dengan The Linde Group, pemasok syngas di Munich, Jerman, untuk mengetahui tentang cara mendekarbonisasi pabrik produksi hidrogen dengan menggunakan metode Chemical Looping sebagai inovasi lanjutan.  (Liy)
Article Bottom AD