‘MOLINA’, Ancaman! Sekaligus Peluang Munculnya Industri Baru (3 dari 3)

Article Inline AD

 

Dilihat dari sisi produksi, suku cadang dan perangkat yang digunakan, maka tidaklah berlebihan jika mobil listrik ini dikatakan sebagai kendaraan dengan perawatan yang minim.

Memang mobil listrik masih memerlukan perawatan untuk suku cadang yang bergerak setiap waktu dan habis digunakan seperti ban, kampas rem dan lain sebagainya. Untuk perangkat inti seperti rotor, baterai dan juga inverter nyaris tidak memerlukan perawatan.

Yang lebih hebat lagi adalah baterai yang digunakan oleh mobil listrik tidak akan habis atau rusak dipakai. Baterai dari mobil listrik dapat direcycle kembali dengan hasil daur ulangnya sebesar 95%.

Hal inilah yang akan menjadi ancaman bagi industri mobil mesin yang saat ini sudah mulai berkembang dengan jaringan rantai pasokan suku cadang yang sudah memutar ekosistem investasi di Indonesia.

“Hampir lebih dari 50% biaya untuk sebuah mobil listrik adalah untuk sebuah penyimpan daya atau baterai. Bukan tidak mungkin, ke depan investasi untuk sebuah baterai akan menjadi sebuah peluang bisnis baru”

Keberadaan mobil listrik yang dapat menjadi ancaman (baca bagian 2 dari 3), rupanya juga dapat membuka peluang bisnis baru yang juga bisa memutar roda perekonomian makro. Betapa tidak, selain memberikan efek berkurangnya pada biaya transportasi, mobil listrik juga bisa menjadi sebuah bisnis baru dengan berubahnya tren masyarakat yang akan beralih dalam menggunakan jasa tranportasi dan bukan lagi kepemilikan kendaraan.

Seperti yang dilansir dari reuters, saat ini Eropa sudah mulai menjual jasa persewaan mobil listrik, tren untuk menggunakan mobil dengan sistem sewa rupanya menjadi pilihan yang lebih disukai daripada membeli untuk kepemilikan.

Hal ini dipicu karena mobil listrik mempunyai keunggulan dalam hal perawatan yang minim, sehingga menyewa mobil listrik akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan investasi untuk membeli sebuah mobil bertenaga mesin.

Produsen otomotif dunia Renault dan Nissan adalah salah satu produsen mobil listrik yang fokus dan mulai menginvestasikan dananya untuk menyewakan lebih banyak lagi mobil listrik di seantero Eropa yang untuk saat ini lebih berpusat di kota Paris, Perancis.

Bukan tidak dapat dihindari, namun tren semacam ini akan lebih banyak diminati untuk ke depannya. Bukan saja peluang dalam persewaan kendaraan, akan tetapi baterai juga bisa menjadi peluang bisnis baru.

Seperti diketahui, baterai merupakan perangkat utama bagi kendaraan listrik, dan masih merupakan item termahal dari sebuah kendaraan listrik terutama mobil. Hampir lebih dari 50% biaya untuk sebuah mobil listrik adalah untuk sebuah penyimpan daya atau baterai. Bukan tidak mungkin, ke depan investasi untuk sebuah baterai akan menjadi sebuah peluang bisnis baru, mengingat baterai untuk mobil listrik dapat didaur ulang.

Masih banyak lagi peluang yang akan timbul dari sebuah teknologi baru moda transportasi berbasis listrik ini. Akan tetapi moda transportasi listrik juga dapat menimbulkan gangguan bagi ekosistem bisnis otomotif yang telah ada.

 

Peran Pemerintah Sebagai Regulator
Dalam hal ini diperlukan peran pemerintah sebagai regulator untuk dapat memberikan solusi bagi investasi otomotif yang sudah berkembang dan berjalan selama ini. Bagaimana menjaga ekosistem bisnis yang sudah berjalan tetap seimbang di tengah pertumbuhan mobil listrik yang mau tidak mau harus menjadi sebuah moda transportasi alternative pengganti moda transportasi berbahan bakar minyak saat ini.

Dengan digagasnya riset pengembangan mobil listrik yang dimulai pada era Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan dilanjutkan dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang terus mendorong pengembangan mobil listrik, hal ini seolah bukti nyata keseriusan pemerintah dalam mendorong perkembangan mobil listrik.

Akan tetapi sektor industri dan iklim investasi yang selama ini telah berjalan harus menjadi perhatian pemerintah untuk tetap terjaga tanpa harus mereduksi perkembangan dan proses peralihan mobil listrik nasional.

 

Sistem Hybrid Solusi Industri Engine Vehicle
Menyikapi hal ini, tim mobil listrik ITB Bandung memberikan sebuah usulan solusi kepada pemerintah berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan mobil listrik serta ditunjang dari hasil studi banding yang telah banyak dilakukan melalui jaringan riset mobil listrik dunia.

Salah satunya adalah mobil dengan sistem hybrid yang dirasa dapat memberikan solusi bagi mobil dengan pengerak utama mesin yang saat ini telah menjadi transportasi yang diandalkan. Sistem hybrid ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi eksistensi kendaraan berbasis mesin tanpa merevolusi keberadaannya melainkan mereduksi konsumsi bahan bakarnya.

 

“Pada sistem ini, mesin hanya berfungsi sebagai pengisi baterai ‘generator’ dari mobil sedangkan penggerak transmisi mobil adalah dari elektrik itu sendiri. Mesin pada sistem ini akan menyala dengan kecepatan konstan, sehingga mesin akan mengkonsumsi bahan bakar yang lebih sedikit dibandingkan dengan sistem hybrid engine yang masih dominan berfungsi sebagai penggerak dari mobil”.

 

Ketua Tim Mobil Listrik ITB dan Ketua Tim Teknis Mobil Listrik Nasional Dr. Ir. Agus Purwadi, MT memaparkan keunggulan dari sistem hybrid yang di usulkan oleh ITB. Ada dua jenis hybrid yang dikembangkan industri otomotif dewasa ini.

Ia membagi teknologi hybrid yang berkembang di pasaran menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah Hybrid Engine dan yang kedua adalah Serial Hybrid Engine atau yang disebut dengan Range Extended Electrical Vehicles ‘REEV’.

 

 

Menurut Agus kedua hybrid ini mempunyai perbedaan pada dominasi penggunaan tenaga penggerak. Untuk teknologi hybrid engine dominasi penggerak transmisi adalah mesin itu sendiri dan ditopang oleh rotor yang digerakkan oleh baterai sebagai tenaga alternative sehingga dapat mengurangi fungsi dari mesin. Dapat dikatakan bahwa mesin dengan hybrid seperti ini masih mempunyai dominasi mesin yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem elektrik di dalamnya.

Berbeda dengan sistem REEV yang mempunyai dominasi pada rotor elektrik pada penggerak transmisi. Pada sistem ini, mesin hanya berfungsi sebagai pengisi baterai ‘generator’ dari mobil sedangkan penggerak transmisi mobil adalah dari rotor elektrik.

Mesin pada sistem REEV ini akan menyala dengan kecepatan konstan, sehingga mesin akan mengkonsumsi bahan bakar yang lebih sedikit dibandingkan dengan sistem hybrid engine yang masih dominan berfungsi sebagai penggerak dari mobil.

Selain itu sistem REEV juga akan secara otomatis menyala tatkala diperlukan untuk pengisian baterai dan demikian juga sebaliknya berhenti pada saat baterai terisi penuh, sehingga frekuensi menyala juga akan menyesuaikan kebutuhan dari pengisian baterai.

Agus juga mengatakan bahwa dengan sistem REEV, isu kesulitan dalam pengisian untuk mobil listrik dapat terjawab. Selain itu, dengan sistem REEV mobil listrik akan dapat menempuh perjalan yang lebih panjang.

 

Konversi Mobil Mesin Menjadi Mobil Listrik
Dengan sistem REEV rotor merupakan item utama penggerak pengganti mesin. Konversi pada mobil mesin dapat dilakukan dengan merubah sistem penggerak mobil dengan rotor listrik dan menyisakan mesin utama sebagai generator pengisi daya. Konversi mobil dengan engine menjadi mobil listrik ini dapat juga menjadi sebuah solusi bagi keberadaan mobil mesin yang sudah banyak beredar selama ini.

Langkah ini dapat menjadi cara untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil tanpa menghilangkan mobil berbasis engine. Sehingga peran mobil berbasis engine akan tetap diperhitungkan. Pada sistem hybrid REEV penggunaan bahan bakar minyak masih tetap dikonsumsi walaupun konsumsinya akan jauh lebih hemat.

Dalam perjalanannya, Institut Teknologi Bandung telah mencoba melakukan konversi dari mobil bertenaga mesin untuk dirubah menjadi mobil bertenaga listrik. Bekerja sama dengan produsen mobil TATA Motor dari India, perguruan tinggi terbaik versi Times Higher Education pada 2017 ini mendapat ijin untuk mengkonversi mobil tersebut menjadi mobil listrik yang difungsikan sebagai kendaraan angkutan pedesaan.

 

Pick Up: Mobil mesin dengan merek TATA Motor ini telah medapatkan ijin untuk dikonversi menjadi mobil listrik dengan melepas mesinnya dan menggantikannya dengan tenaga listrik. Kendaraan ini difungsikan untuk kendaraan angkut pedesaan. (Dok. priskop.com)

 

Menurut Dr. Ir. Agus Purwadi, MT Ketua Tim Mobil Listrik ITB dan Ketua Tim Teknis Mobil Listrik Nasional, memaparkan bahwa produsen mobil asal India itu telah memberikan restu kepada pihak ITB untuk melakukan modifikasi terhadap mobil besutannya tersebut, sehingga tidak akan ada permasalahan hukum terkait hak atas kekayaan intelektual atau hak paten pada mobil berlogo inisial huruf “T” tersebut.

Mobil dengan bentuk pick up ini dikonversi dengan tujuan menjadikannya sebagai kendaraan angkutan pedesaan. Tingkat konversi pada mesinnya adalah merubah mesin di dalamnya menjadi full electric vehicles yang masih tetap mempertahankan transmisi manual yang ada pada kendaraan ini.

 

Dari kiri Dr. Ir. Agus Purwadi, MT. Ketua Tim Mobil Listrik ITB dan Ketua Tim Teknis Mobil Listrik Nasional, Dr. Ir. Hilwadi Hindersah, M.Sc. berdiri di depan mobil listrik hasil konversi yang telah mengantongi ijin dari produsennya, TATA MOTOR. Para pihak yang terlibat juga telah ditulis di samping pintu depan dengan urutan vertikal. (Dok. priskop.com)

 

Perjalanan panjang sebuah pengembangan mobil listrik nasional hampir mencapai titik puncak pencapaian sebuah hasil. Pada tahapan ini, dituntut juga peran pemerintah sebagai regulator sekaligus sebagai penggerak dan initiator terselenggaranya pencapaian tersebut.

Apabila kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa negara tetangga yang telah banyak berhasil dalam mengembangkan kendaraan listrik sebagai kendaraan utama pada transportasi masal, dan juga sebagai transportasi individu, mengapa tidak kita mencoba untuk menjadi negara yang tidak hanya menjadikan isu renewable ‘terutama kendaraan listrik’ sebagai kendaraan politik dalam setiap era kepemimpinan.

Bisa jadi kendaraan listrik ini akan menjadi kendaraan untuk bangsa Indonesia dalam menapak babak baru dalam industri otomotif dunia sekaligus sebagai negara yang mampu mandiri dan bertumpu pada kemampuan bangsanya sendiri sekaligus menjadi sebuah pemicu untuk sebuah perkembangan dunia otomotif berbasis listrik di Indonesia sekaligus memberi ruang yang cukup lebar untuk menjadi tuan rumah industri otomotif di negeri sendiri.


Written by: Ris                                                                                                    Creative by: Don                                                                                                      Edited by: Y&S

Article Bottom AD

LEAVE A REPLY