Perjalanan Energi Listrik Di Tanah Air (4 Episode)

Ilustrasi: Don Priskop
Article Inline AD

Episode pertama – Minggu pertama

Listrik merupakan energi vital dan bermanfaat sehingga bisa membuat dunia menjadi seperti sekarang, dengan energi listrik kita dapat mejelajah dunia hanya dengan jari, menerangi seluruh dunia dan masih banyak lagi manfaat energi listrik.

Di Indonesia ternyata perjalanan energi listrik mengalami banyak dinamika. Perjalanan listrik di Indonesia telah mengalami tiga jaman perubahan. Mulai dari Penjajahan Belanda sampai dengan Jepang, hingga menuju perjuangan dan era reformasi. Kebijakan dan perekembangan listrik telah menjadi sejarah yang patut kita uraikan. Priskop.com mencoba menelisik dengan mencari dari berbagai sumber informasi untuk mencoba menyampaikan secara urut seputar sejarah dan perjalanan listrik di tanah air ke dalam empat edisi mingguan pada rubrik Weekly Dairy yang akan disajikan secara berurutan dilengkapi infografis dan dokumentasi pendukung. Perpaduan antara narasi dan gambar yang kami harapkan dapat membuat pembaca memahami dan mengetahui sebuah perjalanan panjang listrik yang merupakan aset vital sebuah negara.

Dimulai dari datangnya Belanda ke Indonesia sekitar tahun 1596 untuk mencari sumber rempah-rempah dan berdagang. Dipimpin oleh Cornelis de Houtman yang kemudian berkembang karena persaingan harga untuk produk rempah-rempah yang dibawa dari nusantara. Sehingga dibentuklah serikat dagang oleh pemerintah Belanda untuk mengontrol persaingan harga yang sedang terjadi pada saat itu. Persatuan itu diberi nama Verenidge Oost Indische Compagnie (VOC) yang didirikan 20 Maret 1602.

Monopoli dagangpun dilakukan VOC kala itu sampai akhirnya dibubarkan karena korupsi yang merajalela oleh anggota VOC. Pada tahun 1799 VOC dibubarkan oleh pemerintah Belanda. Dari sinilah nusantara mulai dikuasai oleh pemerintah Belanda dan Perancis dengan seorang Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels.

Sejak 1816 secara politik Belanda telah menjajah Indonesia sejak diserahkannya tanah jajahan Indonesia oleh Inggris kepada Belanda. Dari situlah kemudian dimulainya perjalanan energi listrik yang dibangun oleh perusahaan Belanda karena kebutuhan untuk pengembangan industri berupa pengelolaan hasil perkebunan di nusantara.

1897
Kelistrikan mulai masuk Indonesia dengan tujuan menggerakkan perindustrian. Listrik sangat diperlukan waktu itu untuk menjalankan roda perinindustrian pada waktu itu adalah perkebunan Belanda (Onderneming). Maka perusahaan listrik swasta asal Belanda mulai masuk dan mulai memberikan energi listrik untuk penerangan di Indoensia. Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) merupakan perusahaan listrik Belanda pertama.

1909
NIEM diberi wewenang untuk membangun tenaga listrik dan mendistribusikan di kota-kota besar pulau Jawa. Akan tetapi pendistribusian listriknya masih diperuntukkan untuk kebutuhan pabrik-pabrik Belanda.

Pada tahun ini NIEM mendirikan anak perusahaan yang mengembangkan gas dengan nama Algemeene Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang berkedudukan di Surabaya.

Kantor ANIEM yang berkedudukan di Surabaya (Sumber: Perpusatakaan PLN)

Dalam waktu singkat ANIEM menjadi perusahaan pembangkit terbesar di Indonesia dengan penguasaan 40% dari kebutuhan listrik. Pada waktu itu keberadaan listrik hanya pada kota-kota besar di Pulau Jawa.

1921
Pada tahun ini penguasaan ANIEM makin lebar, selain membuka pembangkit di pulau Jawa, perusahaan swasta belanda ini juga mendapatkan mendapat konsesi dari pemerintah Belanda untuk membuka usaha penyediaan listrik baru di Banjarmasin dengan masa berlaku sampai dengan 1960.

1937
Pada tahun ini perusahaan swasta Belanda ANIEM mendapat hak kelola listrik atas tiga daerah yang meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan.

Ilustrasi: Don Priskop

1906
PLTA PAKAR merupakan PLTA pertama di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) dengan nama Waterkrachtwerk Pakar aan de Tjikapoendoengnabij Dago terletak di Bandung Jawa Barat, dengan sumber air sungai Cikapundung yang berkekuatan 800 KW.

1913
Peralihan pengelolaan PLTA Waterkrachtwerk Pakar aan de Tjikapoendoengnabij Dago oleh BEM (Bandoengsche Electriciteits Maatschappij).

1917
Waterkraht Bureau Biro Tenaga Air di bawah Jawatan Perkeretaapian Negara (SS – Staatspoorwegen) dirubah kedudukannya menjadi Jawatan Tenaga Air dan Listrik (Dienst voor Waterkracht en Electriciteit). Jawatan ini menangani ijin pemberian listrik dan Instalasi listrik di seluruh Indonesia waktu itu.

1920
GEBEO (Gemeenschappelijk Electrisch Bedrif Bandoeng en Omstreken) didirikan di Bandung dengan modal patungan dari pemerintah Belanda dan swasta. Perusahaan listrik ini beroperasi untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Yang kemudian dalam perkembangannya perusahaan ini megakuisisi PLTA di Pakar Bandung Jawa Barat yang disusul dengan pengambil alihan PLTA di Cijedil  yang berlokasi di Cianjur.

Kantor GEBEO di Kota Bandung, Jawa Barat (Sumber:Perpustakaan PLN)

Pada tahun itu GEBEO tercatat dalam sejarah sebagai perusahaan listrik swasta yang menjual listrik untuk didistribusikan kemasyarakat. Dalam proses pendistribusiannya GEBEO menjalin kerjasama dengan negara (pemerintah hindia Belanda) kala itu untuk memasok listrik kepada masyarakat.
Dengan Direksi pada waktu itu dipegang oleh NV. Maintz & Co.(NV. Merupakan Perusahaan Persero atau PT. saat ini) sebagai pihak swasta yang bertanggung jawab.

Sibuk: Tampak aktivitas kantor dari dalam, GEBEO di Bandung (Sumber: perpustakaan PLN)

GEBEO dalam pengoperasiannya membagi 2 wilayah pengelolaan yaitu Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung (Landswaterkrachtbedrijf Bandoeng) dan Perusahaan Tenaga Air Negara Jawa Barat (Landswaterkrachtbedrijf West Java). Untuk dataran tinggi Bandung terdiri dari dua sektor.

Sektor 1 Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung (Landswaterkrachtbedrijf Bandoeng)

Perusahaan ini membagi dua sektor untuk mengelolah daerah pembangkit listrik. Sektor tersebut adalah Sektor Priangan dan Sektor Cirebon.

A. Untuk Sektor Priangan: Sektor Priangan ini mempunyai PLTA yang terdiri dari Bengkok, Dago,  Plengan dan Lamajan.

1920
dibangun PLTU Dayeuhkolot 2 X 750 KW yang bertujuan untuk mengaliri listrik sebuah pemancar radio Internasional waktu itu.

1922
Untuk menjamin ketersediaan listrik akibat kemarau dan kekurangan air sebagai energi penggerak pembangkit utama tenaga air (PLTA) dari beberapa sektor priangan miliki E.W. (Electriciteitswezen). Maka dari itu dibangunlah waduk Cileunca dengan kapasitas 9,98 juta M³.

1923
Ditambah kapasitas pembangkit PLTA Plengan menjadi 3 X 1050 KW
Dari PLTA Plengan dibangun transmisi 30 KV sepanjang 80 km untuk dialirkan ke gardu induk Sumadra, Garut dan Sukaparna yang selanjutnya menghantarkan listrik bagian timur Priangan Timur.

1924
Kapasitas dari PLTA Lamajan ditambah menjadi 2 X 6400 KW.

1930
Untuk memenuhi kebutuhan air yang diperkirakan akan semakin banyak, maka diambilah air dari sumber air danau Cipanunjang dengan kapasitas 21,8 juta M³ air.

1933
Pada tahun ini sumber energi ditambah dengan daya 6400 KW yang dibangun dengan sumber air Sungai Cisangkuy dan Sungai Cisarua.

1934
Pada tahun ini Dienst voor Waterkracht en Electriciteit diubah menjadi Electriciteitswezen (kelistrikan) disingkat E.W.

Electriciteitswezen selanjtunya dirubah menjadi Waterkracht en Electriciteitswezen disingkat W.E. seperti diketahui Dienst voor Waterkracht en Electriciteit adalah perusahaan jawatan yang bergerak dalam bidang tenaga air dan kelistrikan. Perusahaan inilah yang akan menjadi cikal bakal perusahaan listrik negara saat ini.

1940
Permukaan tiga bendungan ditinggikan, tiga bendungan tersebut adalah Pulo, Playangan dan Cipanunjang. Agar dapat lebih banyak menampung air yang dibutuhkan.
Pada tahun yang sama PLTU Dayeuhkolot dibongkar dan dirubah menjadi PLTD dengan kapasitas 2 X 550 KW.

B.Sektor Cirebon

1939
Didirikan Perusahaan Tenaga Air Negara Cirebon (Landswaterkrachtbedrijf Cirebon).     Perusahaan ini didirikan sehubungan dengan akan dibangunnya pembangkit listrik bertenaga air di Cirebon. PLTA tersebut akan dibangun di Parakan dengan kapasitas
(4 X 2500 KW). Kota Cirebon sebelumnya telah dialiri listrik oleh perusahaan Nederland Indische Gas Maatschappij atau NIGM. Maskapai Hindia Belanda ini terletak di kebonbaru dengan pembangkit Diesel (PLTD).

Sektor 2 Perusahaan Tenaga Air Negara Jawa Barat (Landswaterkrachtbedrift West Java)

PLTA yang dinaunginya adalah PLTA Ubrug dan PLTA Kracak. Masing masing PLTA mengalami perubahan daya. Berbeda dengan Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung yang membagi sektor dalam wilayahnya. Pada perusahaan ini hanya membagi dua PLTA yang ada di sekitar kota Cirebon.

1924
PLTA Ubrug dibangun dengan kapasitas daya sebesar 2 X 5400 KW.

1926
Dibangun jalur transmisi dari PLTA Ubrug sepanjang 30 km untuk dialirkan menuju Gardu Induk (GI) Lembursitu sepanjang 16 Km. transmisi ini ditujukan untuk menyinari daerah sukabumi dan sekitarnya.

1929
PLTA Kracak dibangun dengan kapasitas daya sebesar 2 X 5500 KW.

1931
Pada tahun tersebut dibangun jalur transmisi 30 kV sepanjang 57 km dari PLTA Kracak untuk mengaliri listrik di daerah Rangkasbitung dan sekitarnya.

Kedua PLTA tersebut dengan perantaraan transmisi 70 kV dihubungkan bersama ke GI di Bogor dan dari sini dihantarkan dengan jaringan transmisi 70 kV ke Jakarta dengan GI-GI Cawang, Meester Cornelis (Jatinegara), Weltevreden (Gambir), dan Ancol.

Ilustrasi: Don Priskop

Perkembangan listrik pada masa Hindia Belanda telah menemui banyak perubahan yang sangat fundamental dalam sejarah energi di Indonesia.

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia dan berhasil memukul mundur Belanda. Hal ini berpengaruh terhadap terputusnya sistem kelistrikan yang telah dibangun Belanda pada kala itu. Sistem kelistrikan yang sudah dibentuk oleh ANIEM dan anak-anak perusahaan Belanda harus diambil alih oleh Jepang.

Jepang menduduki Indonesia dan mulai menjajah Indonesia selama 3,5 tahun. Tidak banyak yang berubah untuk kelistrikan di Indonesia. Karena peralihan secara paksa dari Belanda kepada Jepang.
Sejak saat itu uruan kelistrikan di jawa diambi alih oleh sebuah lembaga bentukan Jepang yang bernama Djawa Denki Djigjo Kosja nama tersebut kemudian berubah menjadi Djawa Denki Djigjo Sja yang selanjutnya menjadi cabang dari Hosjoden Kabusiki Kaisja yang berpusat di Tokyo.

Dalam pengelolaannya Djawa Denki Djigjo Sja membagi 3 area pengelolaan listrik yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jawa Barat berpusat di Jakarta yang diberi nama Seibu Djawa Denki Djigjo Sja, sedangkan untuk area Jawa Tengah dipusatkan di kota Semarang dengan nama Tjiobu Djawa Denki Djigjo Sja dan selanjutnya adalah  Tobu Djawa Denki Djigjo Sja untuk area pengelolaan Jawa Timur yang dipusatkan di kota Surabaya.

Setelah merdeka Indonesia mengambil alih semua usaha kelistrikan peninggalan Belanda dan ditangani oleh Badan yang dibentuk kala itu dengan nama Djawatan Listrik dan Gas Bumi. Menangani perusahaan listrik bukanlah hal yang mudah kala itu, pengambil alihan semua aset tanpa ada proses peralihan mengakibatkan timbul kekacauan dan kerusakan karena salah penanganan. Hal ini dikarenakan kurangnya sumber daya manusia yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan seputar kelistrikan pada masa itu.
Bagaimana proses panjang bangsa Indonesia dalam mengelola salah satu energi vital tersebut. Baca Selengkapanya Weekly Dairy Minggu depan “Menaklukkan Si “Halilintar” Di Era Kemerdekaan”.

Article Bottom AD