(Kiri) Akademisi Unhan Herman Darnel, (Kedua Kanan) Perwakilan BPPT Hamzah Hilal, (kiri) Jaya Wahono (Clean Power Indonesia) saat FGD membahas smart grid untuk ketahanan energi di Kampus Unhan, Bogor, Jawa Barat, Kamis,19/4/2018. (Foto: priskop.com)
Sentul – Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) menggelar Focus Group Discussion di Kampus Unhan, Sentul, Jawa Barat, Kamis (19/4/2018). FGD kali ini membahas ‘Pengembangan Smart Grid untuk Meningkatkan Ketahanan Energi dan Pertahanan Negara Terutama Daerah 3T’.
Perwakilan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hamzah Hilal mengungkapkan dalam pengembangan smart grid dapat berpotensi memunculkan peluang dan industri baru. Menurutnya, saat ini di Indonesia sudah mulai banyak rumah yang membangun pembangkit pribadi (panel surya).
Smart grid membuka peluang bisnis baru, yaitu kapasitor. Dalam perkembangan smart grid di Amerika misalnya, disana mereka sudah bicara kualitasnya bukan lagi kapasitas,” ungkap Hamzah saat memaparkan presentasinya kepada para peserta FGD.
Selain itu, menurutnya untuk mengembangkan energi di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T) diperlukan konsep yang matang dalam perencanaan dan eksekusinya.
“Kita harus tahu terlebih dahulu di daerah 3T itu sumber daya apa saja yang tersedia. Kita juga mesti lihat bebannya lalu kita gunakan ilmu-ilmu yang dikuasai engineer,” papar Hamzah.
Dalam kesempatan yang sama, Akademisi Unhan Herman Darnel mengatakan dalam mengembangkan smart grid, hal utama yang mesti dipahami yaitu sumber daya manusia yang cerdas.
“Pertama, kita perlu cerdas untuk mengimplementasikan jaringan cerdas,” kata Herman dalam paparannya.
Untuk mengimplementasikan smart grid, menurutnya saat ini teknologi berkembang secara pesat. Sehingga, rencana pengembangan smart grid yang direncanakan rampung pada 2045 ditaksir lebih cepat dari prakiraan.
Selain itu, Herman menekankan dalam konsep pengimplementasian smart grid diperlukan konsep drive, bukan mengalir begitu saja.
“2045 terlalu lama, mungkin bisa lebih cepat. Untuk mengimplementasikan smart grid dibutuhkan konsep drive, bukan mengalir saja mengikuti kemana perginya dan tidak diarahkan kemana yang akan dituju. Jadi, nanti tidak ada lagi daerah tertinggal, yang ada terluar dan terdepan saja,” tambahya. (Nan)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY