PJCI Proyeksikan HVDC Kalimantan-Jawa

0
133
Founder PJCI Eddie Widiono saat memaparkan materi soal HVDC Jawa Kalimantan. (Sumber: priskop.com)
Jakarta – Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai proyeksi transmisi High Voltage Direct Current (HVDC) Kalimantan-Jawa (KaliJa) di Jakarta, Rabu (7/3/2018).
Founder PJCI Eddie Widiono mengungkapkan visi untuk pengembangan transmisi HVDC Kalimantan-Jawa bukan ditujukan untuk pemerintah, tapi untuk membuka peluang dari sektor usaha.
“Visi KaliJa tidak ditujukan kepada pemrintah. Visi KaliJa spiritnya untuk membuka kesempatan bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk menggarap proyek ini,” ungkap Eddie saat memberikan paparannya, Rabu (7/3/2018).
Eddie menambahkan, saat ini pemerintah memiliki program pemerataan. Namun, hal itu berbeda dengan visi dari KaliJa yang membuka peluang bagi dunia usaha, khususnya pengembangan usaha di Kalimantan.
“Saya tahu pemerintah punya program pemerataan. Namun, di kalangan usaha tidak demikian. Usaha bergantung pada opportunity, dan opportunity membutuhkan kesatuan gerak. Ini juga untuk menyokong industri di Kalimantan. Peluang ini lah yang kita inginkan.,” tambah Eddie.
Selain itu, menurut mantan Direktur Utama PLN ini mengungkapkan saat ini teknologi kabel laut masih dikuasai oleh 4 perusahaan asing. Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan transmisi submarine cables masih dibutuhkan biaya yang mahal.
“Ada 4 kapal yang mendominasi submarine cables, yaitu Nexans Skagerrak, Giulio Verne, CS Sovereign, Topaz Energy and Marine,” kata Eddie saat memberikan paparannya, Rabu (7/3/2018).
Terpisah, Senior Manager Asset Transmission PLN Eko Yudo Pramono memaparkan mengenai kondisi sistem transmisi Jawa-Bali 2017-2022. Eko menggarisbawahi pentingya antara Jawa Bali butuh backbone baru. Menurutnya, kapasitas pembangkit 500 KV sudah mengalami bottle necking yang mengakibatkan rentan stabilitasnya.
“Kenapa Jawa-Bali butuh backbone baru? Karena pembangkit 500 KV kita sudah menjadi bottle necking. Kalau mengalami gangguan, stabilitasnya nanti akan goyang sehingga akan menjadi rentan,” ungkap Eko. (Nan)
Article Bottom AD

LEAVE A REPLY