Potensi Blockchain pada Bidang Ketenagalistrikan di Indonesia

Article Inline AD

Jakarta – Di era industri 4.0, blockchain adalah salah satu hal yang tidak asing dan banyak start-up yang menggunakan blockchain. Namun selain berguna untuk bidang financial ternyata blockchain ini juga memiliki kegunaan yang amat bermanfaat untuk ketenagalistrikan di Indonesia.

Setelah berhasil memulai beberapa projek Smart Grid, Agus Setiawan, Wakil Presiden Eksekutif PLN berpendapat bahwa kesempatan untuk menerapkan blockchain di PLN sangatlah banyak. Namun, ada tiga hal penting yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini. Tiga hal itu adalah mengenai trading energi primer, aset manajemen, dan electricity transition.

Biaya yang dikeluarkan oleh para konsumen didominasikan dari energi primer dan itulah salah satu alasan mengapa blockchain harus diterapkan di bidang manajemen energi primer. Potensi yang besar di bidang manajemen energi primer dikarenakan rantai yang diproses sangatlah panjang. Blockchain dapat mulai digunakan untuk melacak proses energi primer sejak dikirim sampai ke pembangkit.

Potensi blockchain di manajemen aset bidang kelistrikan sangat berguna. Di Indonesia, total aset kelistrikan adalah USD 100 Billion dengan 70% aset produktif dan 30% properti. Potensi blockchain di bidang ini adalah dapat melakukan kontrol dari akusisi, instalasi, pergerakan sampai pembuangan.

Potensi terakhir adalah potensi transaksi kelistrikan. Pada sebelumnya, PLN menggunakan cara manual dari pembangkit, transmisi, sampai pelanggan. Kondisi saat ini sudah lebih baik. Lebih baik karena semuanya sudah berpusat di pembangkit dimana blockchain sudah diterapkan. Lalu bagaimana untuk di masa depan? Agus Setiawan menjelaskan bahwa seorang konsumer juga dapat menjadi produser—dimana seorang konsumer dapat memiliki solar panel sendiri.

Lalu apa kelemahannya? Kelemahannya adalah sisi bisnis, blockchain akan menyita waktu yang lama dan dana yang juga membengkak. Menurut Eko Fajar Nurprasetyo, blockchain dapat menghabiskan waktu dua sampai lima tahun untuk mengembangkan blockchain karena selain bergantung kepada blockchain itu sendiri, juga bergantung pada teknologi negeri ini.

(D_I_As. Sumber: Energy Academy Indonesia)

Article Bottom AD