“Renewable Energy Camp, wadah anak muda belajar dan bertukar pikiran tentang energi terbarukan”

0
210
Article Inline AD

Energi terbarukan merupakan topik yang sedang menjadi sorotan saat ini. Meskipun sumber-sumber energi terbarukan seperti energi air dan angin sudah ditemukan sejak dahulu kala, namun isu energi terbarukan naik kembali setelah adanya isu perubahan iklim. Bagaimana tidak, perubahan iklim sebagian besar disebabkan oleh polusi yang berasal dari pemanfaatan energi, baik dari segi pembangkit listrik seperti batubara dan minyak ataupun dari segi transportasi. Oleh karena itu, energi terbarukan menjadi energi alternatif yang solutif dalam menjawab masalah yang ada di dunia. Pengutamaan menggunakan energi terbarukan juga dicantumkan oleh PBB, yaitu dalam Sustainable Development Goals (SDGs) di poin nomor 7.

Energi terbarukan dan Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah pulau lebih dari 13 ribu pulau, harus memenuhi kebutuhan energi di setiap pulaunya. Pulau-pulau ini memiliki karakteristik potensi energi yang berbeda-beda yang dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, energi terbarukan adalah solusi yang paling memungkinkan dibandingkan energi lainnya, karena setiap pulau memiliki potensi energi terbarukannya masing-masing yang dapat dimanfaatkan dengan skala kecil.

Tren memilih energi terbarukan ini juga dirasakan oleh anak-anak muda di Indonesia. Peralihan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan menjadi ketertarikan tersendiri bagi kaum muda karena generasi muda saat ini adalah mereka yang terkena dampak dari pemanasan global itu sendiri. Banyaknya anak muda yang tertarik dengan energi terbarukan tidak diikuti dengan adanya wadah untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, sehingga anak muda tidak dapat mendalami keingintahuannya. Hal-hal ini lah yang menyebabkan anak-anak muda yang tergabung dalam yayasan Institut for Clean and Renewable Energy (I CARE) Indonesia Foundation menginisiasi acara Renewable Energy Camp.

Renewable Energy Camp (REC) adalah suatu rangkaian kegiatan pembekalan energi terbarukan untuk anak-anak muda yang dilaksanakan selama 3 hari. REC merupakan acara pertama di Indonesia yang ditujukan khusus untuk anak-anak muda belajar dan bertukar pikiran mengenai energi terbarukan sebagai solusi alternatif energi di Indonesia. Energi terbarukan yang menjadi fokus dalam REC antara lain adalah energi matahari, energi angin, energi air dan energi biomassa. REC diadakan pada tanggal 9 – 11 Februari 2018 di Sentul, Bogor. Acara ini diikuti oleh 100 anak muda yang memiliki rentang umur 16 – 36 tahun, dengan densitas terbanyak pada umur 20 – 27 tahun. Latar belakang peserta REC pun berbeda-beda, mulai dari mahasiswa, fresh graduate hingga pekerja professional baik yang berkaitan dengan energi maupun tidak. Meskipun peserta paling banyak berasal dari Jabodetabek, namun tidak sedikit peserta berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, hingga Riau yang turut bergabung di Renewable Energy Camp. Seluruh anak muda ini berkumpul untuk bersama-sama belajar mengenai energi terbarukan baik topik yang umum hingga khusus sesuai dengan bidang yang peserta pilih.

Renewable Energy Camp diselenggarakan dengan metode yang cocok bagi anak-anak muda, dimana peserta dibawa jauh dari perkotaan, ke sebuah kompleks villa di Sentul, yaitu Richie The Farmer. Peserta disebar ke beberapa rumah kecil disekitar kompleks tersebut untuk tinggal bersama dengan peserta-peserta lainnya dan diberikan kegiatan berupa olahraga pagi dan diskusi dengan dengan peserta-peserta lainnya. Meskipun merupakan acara pertama di kelasnya, Renewable Energy Camp secara menganggumkan mampu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak besar seperti General Electric (GE) Indonesia, Adyawinsa Telecomunications & Electrical, Dalle Energy, Waskita, PP Energy. Adapun beberapa media partner yang turut mempublikasikan acara ini antara lain adalah Janaloka, Radio Kampus ITB, Event Hunter Indonesia, Warung Energi, Anak Teknik Indonesia, dan Priskop.com.

Peserta dan Pembicara di acara Renewable Energy Camp (REC)

Para ahli dan aktivis energi terbarukan turut berpartisipasi
Renewable Energy Camp semakin menarik dengan adanya pembicara yang terdiri dari para ahli dan aktivis di bidang energi terbarukan. Tema perkembangan energi terbarukan di dunia diisi oleh Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia dan materi perkembangan energi terbarukan di Indonesia diberikan oleh Ida Nuryatin, Direktur Panas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selanjutnya, tema kebijakan energi terbarukan dibawakan oleh Fabby Tumiwa, Executive Director IESR. Tri Mumpuni atau yang sering dikenal dengan Wanita Listrik, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan desa mandiri energi menggunakan energi terbarukan. Peserta juga diberikan wawasan mengenai energi terbarukan secara on-grid dan off-grid oleh Nur Pamudji, Ketua Dewan Pembina PPLSA dan mantan Direktur Utama PLN. REC pun ditutup dengan sharing session tentang masa depan energi terbarukan dengan Achmad Kalla, Presiden Direktur PT Bukaka Teknik Utama, Tbk.

Panita dan Pembicara di acara Renewable Energy Camp (REC). Dari kiri – kanan; Aditya (ICARE), Yan Yan (ICARE), TML Energy, Rumah Energi, Pasadena, UPC, Adyawinsa, IBEKA, LAN, LAN, Ibu Tri Mumpuni, Poso Energi, Ibrahim (ICARE)

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya memberikan kelas yang membahas topik secara umum, namun terdapat pula kelas dengan topik khusus sesuai dengan bidang energi terbarukan, yaitu kelas energi matahari, kelas energi angin, kelas energi air dan kelas energi biomassa. Peserta memilih untuk masuk kelas sesuai dengan minatnya. Di dalam kelas, peserta mendapatkan gambaran umum dan dasar-dasar teknis secara teoritis untuk setiap energinya. Dengan forum lebih kecil, peserta dapat mendalami lebih jauh mengenai energi tersebut. Kelas energi matahari diberikan oleh perwakilan dari TML Energy dan Adyawinsa Telecomunications & Electrical. Kelas energi angin dibawakan oleh UPC Renewables dan Lentera Angin Nusantara, sementara kelas energi air diisi oleh Poso Energy dan IBEKA. Sedangkan kelas energi biomasa diberikan oleh Pasadena dan Rumah Energi.

Selama acara berlangsung, peserta dibagi ke dalam 10 kelompok yang terdiri dari 10 orang dengan komposisi perwakilan dari setiap kelas bertopik khusus. Kelompok tersebut berfungsi sebagai wadah dimana peserta berdiskusi lebih jauh mengenai materi dan wawasan yang mereka dapat dengan lebih kondusif dan intensif. Kelompok ini juga menjadi tempat peserta untuk berbagi ilmu dengan peserta dari kelas-kelas topik khusus lainnya. Setiap kelompok didampingi oleh fasilitator yang memiliki pengalaman di bidang energi terbarukan, sehingga peserta dapat memahami keempat bidang energi terbarukan meskipun mereka hanya diperbolehkan mengikuti satu bidang di kelas kecil dan dapat berdiskusi lebih lanjut kepada fasilitator.

Berlomba menyelesaikan masalah energi di Indonesia
Pada hari terakhir, peserta diberikan sebuah studi kasus untuk memberikan solusi bagi suatu daerah yang memiliki potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan namun tidak memiliki akses energi. Dua daerah di Indonesia menjadi bahan pada studi kasus ini, dimana peserta diminta untuk memilih sesuai kesepakatan kelompoknya. Peserta kemudian diberikan waktu untuk berdiskusi selama 3 jam untuk menemukan solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah energi di daerah tersebut dengan modal yang sudah ditentukan sejak awal. Peserta dan kelompoknya bisa berkonsultasi dengan fasilitator untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan data dan dana yang tersedia bagi masing-masing kelompok. Peserta terlihat sangat menikmati diskusinya dan menerapkan ilmu dan wawasan yang sudah mereka dapatkan pada hari-hari sebelumnya. Dinamika kelompok yang bervariasi juga dapat diamati pada diskusi ini.

Peserta sedang berdiskusi mencari solusi dari studi kasus yang diberikan di acara Renewable Energy Camp (REC)

Setelah waktu yang diberikan habis, para peserta diminta untuk melakukan presentasi kepada para peserta lainnya serta para juri yang terdiri dari fasilitator kelompok dengan keahliannya di bidang energi masing-masing. Peserta memaparkan solusi masing-masing untuk memenuhi kebutuhan energi daerahnya sesuai potensi. Beberapa kelompok merasa bahwa energi air sudah cukup, namun beberapa ada yang merasa tetap membutuhkan energi matahari dan angin. Inovasi penggunaan energi biomasa dari mulai kotoran ternak hingga manusia juga dicetuskan sebagai solusi di daerah tersebut. Begitu pula dengan pemanfaatan energi, ada yang memberikan pemanfaatan hanya untuk penerangan dan kebutuhan rumah tangga, hingga ada yang memberikan fasilitas umum serta mesin-mesin untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Setiap kelompok dinilai dengan parameter-parameter yang sudah ditentukan sebelumnya. Penilaian tersebut ditentukan dari bagaimana setiap kelompok dapat berpikir dan mengerjakan kasus dengan cara berpikir yang tepat, lalu bagaimana cara menghitung potensi hingga daya yang dihasilkan, kemudian bagaimana pengaturan keuangannya dan yang paling terakhir adalah bagaimana energi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat daerah tersebut. Hingga akhirnya dari kesepuluh kelompok tersebut terdapat dua kelompok terbaik dengan solusi yang dirasa paling tepat sasaran untuk daerah di Indonesia.

Perwakilan kelompok terbaik dalam memecahkan solusi di studi kasus di acara Renewable Energy Camp (REC)

“Anyway great event! First, I don’t think the event will be this good somehow. But, it has exceed my expectation.Great job for the committe and all volunteer! I do will recommend this foundation to increase the awareness of renewable energy!” kata salah satu peserta Renewable Energy Camp, Rio Ronald Hasudungan, peserta Kelas Matahari.

Komentar juga datang dari salah satu pembicara Renewable Energy Camp. “Saya surprise I CARE bisa mengumpulkan anak muda sebanyak ini, dengan segmen usia yang sangat tepat untuk mendapatkan message mengenai energi terbarukan. Energi terbarukan akan menjadi sumber energi kita di masa depan jadi kalo sampai generasi-generasi muda ini tidak memikirkan renewables, mereka akan menghadapi persoalan di masa depan karena fossil pasti akan habis.” Kata Pak Nur Pamudji, Ketua Dewan Pembina PPLSA.

Latar belakang dan asal daerah peserta yang tersebar dari berbagai daerah diharapkan dapat memberikan wawasan dan solusi untuk pemberian akses energi di daerah-daerah yang masih belum memiliki cukup energi. Renewable energy camp juga diharapkan dapat memberikan motivasi dan wadah bagi anak-anak muda untuk belajar mengenai energi terbarukan.

 

—S—

Article Bottom AD

LEAVE A REPLY