Teknologi Baru Energi Terbarukan Ini Solusi Untuk Perubahan Cuaca

Boston – Kelemahan dari energi bersih terbarukan yang bersumber dari tenaga angin dan tenaga surya ada pada ketidakstabilan cuaca.  Ketika cuaca mendung dan angin tidak bertiup kencang, maka energi yang dapat dikumpulkan juga sedikit atau bahkan nihil.  Kini sebuah sistem baru, yang berdasarkan graphene, dapat menarik tenaga dari perubahan suhu. Teknologi ini bisa memanfaatkan fluktuasi suhu dari berbagai jenis untuk menghasilkan listrik.
Graphene sendiri adalah sebuah serat karbon yang hanya disusun dari satu lapis atom karbon yang tersusun dalam kisi sarang lebah.  Graphene adalah konduktor panas terbaik yang dimiliki saat ini di bumi,  yang berupa material paling tipis di dunia, namun sifatnya lebih kuat dari baja dan lebih ringan.
Perangkat thermoelectric baru yang berasal dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dapat menarik tenaga dari siklus cuaca harian yang fluktuatif. Konsepnya menghasilkan tenaga saat satu sisi perangkat berada pada suhu yang berbeda dari sisi lain. Proses ini menghasilkan daya yang cukup untuk sensor jarak jauh dan beberapa jenis sistem komunikasi.
Perangkat yang disebut resonator termal, telah ditempatkan di atap sebuah bangunan MIT selama berbulan-bulan untuk menguji konsep tersebut. Perangkat pemanenan energi tersebut terlihat seperti kotak hitam sederhana namun uji coba menunjukkan bahwa alat ini dapat mengenalkan alat baru untuk menangkap dan penyimpanan energi.
Prototipe tersebut secara efisien menghasilkan wooer sebagai akibat dari fluktuasi suhu lingkungan yang terjadi selama siang hari.  Keuntungan utama lainnya adalah bahwa perangkat tidak perlu terkena sinar matahari langsung.
Dalam percobaan perangkat, terjadi reaksi terhadap perbedaan suhu 10 derajat Celcius (antara siang dan malam), dan menghasilkan 350 milimeter potensi dan 1,3 miliwatt daya.
Bagian yang paling menantang dari pengembangan perangkat adalah mengidentifikasi material yang sesuai dengan bahan yang memiliki karakteristik yang disebut efusibilitas termal. Ini adalah properti yang menggambarkan seberapa efektif suatu material dapat menangkap panas dari sekitarnya, menyimpannya dan kemudian melepaskannya.
Bahan yang dipilih adalah busa logam yang terbuat dari tembaga.  Kemudian dilapisi dengan lapisan graphene untuk meningkatkan konduktivitas termal.  Lalu, busa berikutnya diinfus dengan octadecane, yang merupakan bahan perubahan fasa yang menyerupai lilin.  Octadecane dapat berubah antara padat dan cair pada rentang suhu tertentu.  Melalui panas material yang dikumpulkan dari satu sisi dan secara bertahap menyebar ke yang lain.
Menurut peneliti utama bernama  Profesor Michael Strano, mengatakan, “kami telah membangun resonator termal pertama dan ini adalah sesuatu yang bisa duduk di atas meja dan menghasilkan energi. Kami dikelilingi oleh fluktuasi suhu dari semua frekuensi yang berbeda di tiap waktu.  Itu adalah sumber energi yang belum dimanfaatkan”.
Penelitian ini telah dilaporkan dan dipublikasikan oelh  jurnal Nature Communications, dan djuga tersaji dalam bentuk makalah penelitian berjudul  “Ultra-high thermal effusivity materials for resonant ambient thermal energy harvesting (Bahan Efusif Termal Ultra Tinggi Untuk Menghasilkan Energi Panas Ambien)”.
Dalam berita energi terkait yang dilansir digitaljournal.com, regulator Amerika Serikat mengizinkan penyimpanan energi berskala besar dengan menggunakan baterai untuk pertama kalinya. Hal ini tentunya mengganggu sistem monopoli yang dipegang oleh jaringan listrik negara.
Seperti diketahui, dalam perkembangan utama sektor energi, regulator negara tersebut telah menghapus semua hambatan pasar ke penyimpanan listrik.  Ini berarti operator dapat mengirimkan daya dari beberapa sistem penyimpanan, termasuk baterai.(Liy)
Article Bottom AD