Tumiran : Sebuah Road Map Energi untuk Indonesia 2050

Berjajar Penghargaan: Tumiran dan sejumlah penghargaan yang dia dapatkan dalam perjalanan karirnya. (Sumber: priskop.com)
Apakah Anda sudah menikmati hidup yang selama ini dijalankan?. Jika rasa nyaman serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan telah ada di genggaman, itu tandanya hidup Anda sudah terasa nikmat. Soal rejeki tentunya relatif, sebab garis ukur tiap orang beragam. Baginya, berbalut sarung sambil menyantap sajian teh, tempe, dan pisang goreng di meja bersama tetangga merupakan kenikmatan yang membumi. Sebuah subyektifitas sederhana dari seorang akademisi yang menempuh pendidikan doktoral di negeri Matahari Terbit.
Inilah yang menjadikan sosok akademisi DR. IR. Tumiran, M.ENG. tetap dekat dengan alam. Meski telah puluhan tahun menapaki Ibu Kota, toh hatinya hanya tertambat pada keakraban kota Yogyakarta. Tiap minggu, ia melenggang rutin ke kampungnya, bersilaturahmi dengan orang-orang yang bisa hepi meski uang di kantong tak genap seratus ribu.
Pria jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) 1985 ini sangat peduli dengan sumber energi yang dimiliki negeri ini. Dengan armadanya kini, keterlibatannya sebagai Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) hingga periode 2019, mampu merancang sebuah Road Map Energi untuk Indonesia.
“Produk DEN periode perdana telah menghasilkan kebijakan energi nasional menuju 2050 yang menjadi pegangan (guide) bagaimana melakukan tata kelola energi yang baik. Sebuah konsep fundamental yang mendasar bahwa sumber energi dapat menjadi modal dasar pembangunan dan tidak dieksploitasi untuk kepentingan devisa semata,” Tumiran menjelaskan.
Article Inline AD

Dalam hal tata kelola energi yang baik, pria yang gemar menyantap makanan laut dan sayuran ini meyakini perlunya transformasi pengetahuan.
Ia mengilustrasikannya dengan seperti ini: jika Anda memiliki sebidang tanah dan ingin memberdayakannya menjadi sebuah lahan pertanian, maka Anda harus memiliki ilmu tentang pertanian. Keterampilan itu tidak bisa didapat dengan sendirinya, melainkan harus dengan pembelajaran khusus sampai kepada transformasi dan inovasi dari bidang yang dimaksud. Dari sebuah proses belajar itulah terjadinya suatu transformasi pengetahuan.
“Sebagai seorang insinyur, saya berkeyakinan bahwa bangsa ini bisa maju kalau mampu mengembangkan sebuah transformasi berbasis pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Jika kita memiliki mental yang selalu ingin belajar, maka nilai-nilai yang kita miliki akan bertambah dan pastinya memberikan suatu keuntungan tersendiri (value) di masa depan,” kata sarjana teknik elektro yang juga terlibat sebagai tim ahli Kajian Mobil Listrik Nasional, LPDP, 2014.
Dosen yang sangat terinspirasi oleh B.J Habibie ini mengajak Indonesia belajar banyak pada negara Korea dan Jepang sebagai contoh negara yang sukses di Asia dan diakui dunia.
“Dua negara ini tidak memiliki sumber daya alam namun bisa unggul di kancah dunia karena memiliki transformasi knowledge. Apa kita nggak bangga kalau Indonesia bisa begitu,” ujar magister lulusan Universitas Saitama Jepang, tahun 1993. Dalam sudut pandangnya, seseorang yang memiliki bekal ilmu dalam hidupnya akan menjadi sosok yang mandiri.
Dengan ilmu tersebut, dia mampu mengukur segala sesuatunya dengan pandangan kedepan dan selalu mempersiapkan diri agar menjadi lebih baik lagi. Selaras halnya dengan DEN periode pertama yang telah menghasilkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebagai produk yang berada di bawah naungan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 tahun 2017. Kebijakan ini bersifat lintas sektoral demi mencapai sasaran Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang berpandangan kedepan terhadap pemberdayaan energi di Indonesia di masa mendatang.
“RUEN itu nantinya dijabarkan oleh masing-masing sektor sehingga akhirnya dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, mulai dari pemasokan, pemanfaatan, maupun mendorong perekonomian. Sekarang ini sedang bergulir, dan kami mengharapkan nantinya sektor lain dapat menangkap hal serupa sehingga pasokan energi dapat terjamin, infrastruktur energi tersedia, dan proses transformasi knowldege dari industri bisa berjalan. Supaya Indonesia menjadi lebih maju, infrastruktur energi bisa bagus, karena didukung dengan infrastruktur jalan dan pelabuhan yang bagus, serta memiliki daya kompetitif bertaraf internaisonal,” ujar pria yang memiliki hobi mengajar itu.
Dengan demikian, lanjutnya, kebutuhan masyarakat Indonesia dapat terpenuhi, terlebih lagi dapat dieksplorasi dan bertambah sehingga menghasilkan devisa bagi negara. Seperti yang terjabar dalam situs Sekertariat Kabinet Republik Indonesia, dalam RUEN telah ditetapkan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan (EBT).
Mengutip halaman situs tersebut, dikemukakan jika pada tahun 2015 kontribusi EBT baru mencapai 5%, maka pada tahun 2025 ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 23%, dan secara berkesinambungan akan naik lagi menjadi lebih dari 31% pada tahun 2050.
“Tentunya saya optimis” tutup Tumiran. (Liy)
Article Bottom AD